Mahasiswa Utama Aksi Jahit Mulut

Mahasiswa Utama Aksi Jahit Mulut

- detikNews
Sabtu, 27 Jan 2007 18:49 WIB
Jakarta - Aksi sejumlah mahasiswa Universitas Tama (Utama) Jagakarsa, Jakarta Selatan berlanjut. Setelah memulai dengan aksi mogok makan pada Jumat (26/1/2007) kemarin, hari ini Sabtu (27/1/2007) mereka merealisasikan niatnya: aksi jahit mulut. Ada lima mahasiswa Utama yang nekat melakukan aksi ini. Mereka bertahan di bawah tenda di depan kampus tersebut yang terletak di Jl. TB Simatupang. Aksi ini mereka lakukan sebagai perjuangan untuk menuntut dicabutnya SK Rektor Utama tentang DO (drop out) terhadap mahasiswa bernama Rifsia Iga Riadi. Rifsia (21) sendiri ikut dalam aksi ini. Sedangkan empat mahasiswa lainnya adalah Ardian Airlangga (23), Alfa Dio Rhasinta (22), Andri Firmansyah (20), dan Rianto Widodo (25). Mereka memulai melakukan aksi jahit mulutnya pada Sabtu pagi. Bibir mereka, di sudut kiri dan kanan, dijahit dengan benang warna hitam. "Aksi ini akan terus berlangsung hingga SK dicabut. Kami akan terus bertahan," ujar Ardian Airlangga kepada detikcom. Ardian menjawab pertanyaan dengan cara menulis jawabannya di atas kertas. Sebab, dia kesulitan berbicara karena mulutnya dijahit. Aksi ini digelar sebagai rasa solidaritas terhadap Rifsia yang di-DO rektor pada 16 Januari 2007. Dalam salinan SK Rektor Utama yang dibagikan para mahasiswa, Rifsia di-DO karena dianggap mengganggu ketertiban, karena melakukan rapat-rapat gelap, diskusi dan penyebaran pamflet di kampus. Menurut Ardian, alasan rektor mengeluarkan Rifsia sangat tidak rasional. "Ini irasional, membungkam kedaulatan mahasiswa dan kebebasan berekspresi," ujar Ardian. Rencananya, seiring dengan aksi ini, para mahasiswa lainnya akan menemui Mendiknas dan DPR RI untuk mengadukan SK Rektor ini. "Kami akan terus mendukung aksi teman-teman ini. Rencananya kami akan aksi ke DPR dan Mendiknas. Kita tunggu sampai Senin," kata salah seorang mahasiswa. Senin (22/1/2007) menjadi batas waktu terakhir bagi rektor untuk mencabut SK-nya. Sebab, hari itu merupakan hari dimulainya ujian. "Kami mengharapkan SK segera mencabut SK itu, sehingga Rifsia bisa juga mengikuti ujian hari Senin," kata dia. Hingga kini pihak universitas belum memberikan tanggapan atas aksi nekat para mahasiswa ini. (asy/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads