11 Hari Dimainkan Gelombang, 3 Nelayan Terdampar di Banda Neira

11 Hari Dimainkan Gelombang, 3 Nelayan Terdampar di Banda Neira

- detikNews
Jumat, 26 Jan 2007 11:15 WIB
Ambon - Tahlilan sudah digelar. Keluarga pasrah dan menganggap ketiga nelayan itu hilang. Namun, ketiga nelayan ini muncul setelah belasan hari dianggap hilang. Mereka diombang-ambingkan gelombang laut dan terdampar di Pulau Banda. Keluarga pun terharu atas kepulangan tiga nelayan itu. Ketiga nelayan itu adalah Sangkuriang (28), Deny (22) dan Sarmin alias Anchu (22). Mereka berasal dari desa Laha, Kecataman Leihitu, kabupaten Maluku Tengah. Pertengahan Januari lalu, ketiga nelayan ini melaut di laut Maluku. Namun, beberapa hari kemudian, tiga nelayan ini tak diketahui kabarnya. Hilang. Keluarga pun dibuat panik. Kejadian ini akhirnya dilaporkan kepala desa Laha ke Tim SAR Ambon, yang kebetulan kantornya hanya berjarak 200 meter dari desa itu. Tim SAR pun bergerak cepat. Pencarian dan penyisiran dilakukan di sekitar Tanjung Alang yang dikenal ganas karena gelombangnya. Tak ada tanda-tanda ditemukannya ketiga pemuda tanggung itu. Pencarian dan penyisiran dikembangkan hingga seluruh pantai dan laut. Kepasrahan pun melanda keluarga warga desa Laha. Doa dan tahlilan pun dipanjatkan. "Saat itu, badai kan terus terjadi di laut. Kami benar-benar pasrah," tutur Ny Aminah (56), ibunda Deny kepada detikcom. Tapi kesedihan itu sudah berubah kegembiraan. Ketiga nelayan ini tiba-tiba muncul di desa mereka diantar oleh petugas Polsek Banda dan orang yang menemukan mereka. Gegerlah warga desa. Semuanya haru pilu melihat kedatangan tiga saudara mereka. Cucuran airmata syukur tumpah. Habib Bin Thahir, Kepala Desa Laha menyatakan rasa syukurnya, sekembalinya ketiga warganya yang sempat dinyatakan hilang. "Atas nama warga desa Laha, kami sangat berterima kasih kepada pak Sarman dan pihak Polsek Banda. Kami hanya bisa bersyukur," kata Kades saat dihubungi detikcom, Jumat (26/1/2007). Atas kepulangan ketiga warganya, sang Kades berencana akan menggelar syukuran. Saat ketiga nelayan ini melaut, sebenarnya Maluku sedang dilanda badai Isobel, yang datang dari Australia Barat. Pihak Dinas Perhubungan pun telah memberikan peringatan keras bagi warga Maluku untuk waspada dengan kondisi laut. Sayang, baik Anchu, Sangkuriang dan Denny, tidak mendengar peringatan ini. Ketiganya asyik-asyik saja melaut. "saya tidak dengar ada peringatan dari pemerintah. Memang benar, saat mau turun cari ikan, gelombang di Tanjung Alang sangat besar. Gelombang itulah yang menghantam kami bertiga hingga terdampar," tutur Sangkuriang.Menurut dia, hilangnya mereka akibat mesin perahu ketinting rusak. "Saat itu kami berusaha menggayung untuk mencapai tepi pantai. Tapi karena gelombang dan angin, kami tak bisa berbuat apa-apa, selain pasrah dan mengikuti arus laut," ujar dia. Guyuran hujan, gelombang besar disertai angin kencang sempat menghantam ketiga nelayan ini saat berada di tengah laut lepas. "Saya tidak tahu, kami ada di mana, kiri kanan hanya air laut. Tak ada pulau yang kami lihat," paparnya. "Kami baca Alfatihah, meminta pertolongan Allah. Kami bertiga saling memperingatkan untuk terus bertahan dan memegang erat perahu, jangan sampai lepas," tutur dia. Akibat makan ikan mentah, Denny sempat muntah beberapa kali. "Teman saya, Denny sempat muntah beberapa kali. Tapi kami terus memberi semangat buat dia," kata Sangkuriang sambil menyeka tetesan airmata yang keluar dari kelopak matanya. Diceritakan Sangkuriang, mereka bertiga diombang-ambingkan gelombang selama 11 hari. Beruntung, mereka ditemukan seorang nelayan asal desa Rum, Kecamatan Banda Neira, Sarman. "Kami ditemukan dalam kondisi sangat lemas. 11 Hari hanya makan ikan hasil tangkapan. Bahkan dua hari kami tidak dapat ikan. Umpan habis. Kami sudah pasrah," ujar Sangkuriang. Melihat kondisi lemas ketiganya, sang nelayan, Sarman kemudian membawa ketiga nelayan itu ke rumahnya untuk beristirahat. "Kami langsung cerita tentang terdamparnya kami. Mendengar cerita ini, Pak Sarman langsung melaporkannya ke Polsek Banda. Esoknya kami langsung dipulangkan dengan KM Bukit Siguntang. Seluruh biaya ditanggung Polsek," ujar dia. (han/asy)


Berita Terkait