Gus Dur Bicara UUD 45, Wiranto Hingga Maria Eva
Selasa, 23 Jan 2007 16:25 WIB
Jakarta - Bukan Gus Dur namanya jika tidak bicara serius tapi santai alias sersan. Saat berdiskusi dengan rombongan Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) MPR, Selasa (23/1/2007) mantan presiden itu masih lekat dengan gaya sersannya. Isu berat semacam amandemen UUD 1945 hingga Maria Eva alias ME pun dijabaninya. Di awal diskusi yang bertembat di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Gus Dur menyinggung pernyataan Presiden SBY soal aksi cabut mandat. Lalu obrolannya melebar hingga memicu tawa hadirin.Inilah pernyataan Gus Dur:UUD 1945 itu belum pernah dicabut, sedangkan UUD yang hasil amandemen itu juga belum pernah disahkan dan belum tercantum dalam lembaran negara. Kita bingung akan memakai undang-undang yang mana.Seperti yang dikatakan oleh SBY, cabut mandat kepresidenan tidak sesuai dengan UUD. Pertanyaannya UUD yang mana? Yang UUD 1945, belum pernah dicabut dan yang amandemen belum disahkan. Perlu pengkajian konstitusi.FKB studi saja. Dari studi ini baru bisa mendapatkan pengetahuan yang objektif. Atas dasar objektif, maka kita mendapatkan usulan-usulan. Seperti misalnya UUD saja juga mengusulkan otoda (otonomi daerah-red) yang tidak ada dalam UUD 1945. Nah ini perlu dimasukkan dalam UUD atau cukup dengan UU organik.Waktu saya datang ke partainya Wiranto (Partai Hanura-red), saya disuruh berdoa. Lalu saya tanya, doa apa. Wiranto jawab, doa supaya partai saya menang di Pemilu.Lah saya kan jadi berpikir, kalau partai Wiranto menang, partai saya bagaimana?Pak Try Sutriso pernah bilang, negara kita ini bukan sekuler maupun teokratis. Nah saya bilang, kalau gitu negara kita ini negara yang bukan-bukan.Seperti Bang Akbar, saya bilang Bang, jangan banyak mengeluh, saya khawatir istri Anda mengira Maria Eva ada apa-apa dengan Anda.
(ken/nrl)











































