Gara-gara Isu Flu Burung, Peternak Ayam Rugi Rp 90 M
Sabtu, 20 Jan 2007 21:06 WIB
Bandung - Gara-gara isu flu burung merebak dalam seminggu terakhir, 90 ribu peternak ayam mengklaim mengalami kerugian sekitar Rp 90 miliar. Hal disebabkan harga ayam di tingkat peternak anjlok.Demikian disampaikan Sekjen Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional(Gopan) Herry Darmawan, usai diskusi terbatas penanggulangan flu burung diJalan Belitung Bandung, Sabtu (20/1/2007)."Harga ayam di tingkat peternak saat ini turun anjlok berkisar Rp 6.000hingga Rp 6.500 per kilogram dari asalnya Rp 9.000 per kg," ujar Herry.Dengan penurunan harga hingga Rp 3.000 per kg, maka kerugian dalamsatu minggu mencapai Rp 90 miliar. Estimasi ini diperoleh dengan perhitungan produksi ayam per minggu sebanyak 20 juta ekor atau 30 juta kg(satu ekor ayam beratnya 1,5 kg)."Tinggal kalikan saja 30 juta kg dengan Rp 3.000, maka kerugian yang kamialami mencapai Rp 90 miliar," papar Herry.Turunnya harga ayam tersebut, kata dia, disebabkan anjloknya permintaan konsumsi ayam yang mencapai 30 persen. "Berita dan pernyataan para pejabat benar-benar membuat takut masyarakat mengkonsumsi ayam," keluh Herry.Dia menuding kebijakan pemusnahan unggas, membuat pemahaman mengenai flu burung di tengah-tengah masyarakat menjadi bias. Karena menganggap dengan mengkonsumsi ayam akan terkena virus tersebut."Beberapa waktu lalu saya mengganggap kampanye tentang flu burung olehpemerintah sudah bagus. Namun adanya kebijakan pemusnahan ini, hancursemua," kata Herry.Lebih lanjut, dia mengatakan, persoalan ganti rugi saat ini sangat merugikan peternak dan masyarakat. Uang ganti rugi yang hanya dipatok olehpemerintah pusat sebesar Rp 12.500 per ekor dinilai tidak layak."Minimal ganti rugi pemusnahan itu Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per ekor.Berarti pemerintah daerah punya kewajiban untuk menambahi kekurangan gantiruginya," tandas Herry.
(ern/bal)











































