Kecerdasan Spiritual Penting Bagi Pemimpin di Indonesia
Kamis, 11 Jan 2007 11:43 WIB
Jakarta -
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Muladi menilai kecerdasan spritual penting bagi para pemimpin di Indonesia. Kecerdasan spritual menjadi satu elemen penting dalam kepemimpinan."Pemimpin Indonesia harus bisa menggabungkan antara nasionalisme yang diajarkan di Lemhanas dengan kecerdasan spiritual yang lintas agama ini," kata Muladi usai menghadiri pembukaan pelatihan Training ESQ Eksekutif Nasional Angkatan ke-55 di Jakarta, Kamis (11/1/2006).Makanya kata Muladi, Lemhanas akan menggandeng lembaga Emotional and Spiritual Quotient (ESQ) dalam program pelatihan baik kepada para dosen maupun siswanya. Lembaga ESQ akan mulai melakukan pelatihan di Lemhanas pada 16 Januari nanti.Menurut dia, ke depan, pelatihan kecerdasan emosi dan spiritual lembaga ESQ akan dijadikan kegiatan rutin di Lemhanas. "Para dosen Lemhanas akan ikut ceramah beliau (Ary Ginanjar Agustian, pendiri lembaga ESQ) sedang siswa Lemhanas juga dapat ceramah dari ESQ," katanya.Muladi menambahkan, alasan menggandeng ESQ adalah karena salah satu elemen kepemimpinan adalah kecerdasan spiritual. Menanggapi rencana Lemhanas itu, Ary Ginanjar Agustian menyatakan kesiapannya memberikan pelatihan kecerdasan emosi dan spiritual kepada para calon pemimpin bangsa yang tengah disiapkan Lemhanas. Menurut dia, krisis multidimensi yang terjadi saat ini bermuara dari krisis spiritual yang harus diatasi dengan menanamkan keyakinan mendalam atas keberadaan Tuhan. "Keyakinan bahwa kita melihat dan dilihat Tuhan," kata Ketua Umum Forum Komunikasi Alumni ESQ itu.Selain itu, lanjutnya, dengan meningkatkan kecerdasan emosi dan spiritual maka seseorang akan mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, sehingga bisa diterima di setiap tempat. "Karenanya, inilah alasan mengapa kecerdasan emosi dan spiritual para calon pemimpin bangsa harus diasah," ujar Ary.Selain Muladi, hadir pula dalam pembukaan Ketua Umum PP Muhamadiyah Din Syamsuddin, para alumni ESQ antara lain Koordinator Bidang Seleksi Hakim Agung Komisi Yudisial Mustafa Abdullah dan Direktur SDM PT PLN Djuanda Nugraha Ibrahim, beberapa direksi BUMN lain, serta pejabat daerah.Pelatihan angkatan ke-55 dengan Ary Ginanjar sendiri sebagai "master trainer" itu diikuti 500 peserta dari pejabat daerah, BUMN dan swasta.
(mar/mar)










































