Prof Miriam Budiardjo, Perempuan Cerdas yang Baik Hati
Senin, 08 Jan 2007 16:38 WIB
Jakarta - Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meningalkan nama. Pengamat politik Prof Miriam Budiardjo telah menghadap Illahi, namun masih meninggalkan kesan mendalam di hati banyak orang."Dia itu orang yang sangat intelek, tidak arogan, dan punya empati besar terhadap mahasiswanya," ujar sepupu Miriam, dr Aru W Sudoyo (55).Hal itu disampaikan dr Aru -- yang juga dokter penyakit dalam yang merawat almarhumah -- di RS Medistra, Jl Gatot Soebroto, Jakarta, Senin (8/1/2006).Menurut dr Aru, guru besar ilmu politik Universitas Indonesia (UI) itu dikenal sangat baik hati. "Dia orang yang sangat jadi panutan," imbuhnya.Dikatakan dia, Miriam meninggal dunia karena sakit tua dan diikuti komplikasi pernafasan akibat gagal ginjal. Mantan wakil ketua Komnas HAM ini sebelumnya pernah sebulan dirawat di RS. Setelah kondisinya membaik, Miriam diperbolehkan pulang. Namun seminggu di rumah, kondisi perempuan cerdas ini menurun."Kondisinya drop karena dia sulit makan. Dia juga mengalami dehidrasi," imbuh dr Aru.Jenazah penulis buku 'Dasar-dasar Ilmu Politik' yang karyanya menjadi pegangan mahasiswa ilmu politik hingga pukul 16.00 WIB masih berada di kamar 402 RS Medistra. Tampak pula beberapa kolega dan keluarganya. Sebelum dimakamkan, Miriam yang menutup mata di usia 84 tahun ini akan disemayamkan di rumah duka, Jl Proklamasi, Jakarta.
(nvt/nrl)











































