Ibu Hamil Positif HIV Kurang Perhatian Pemerintah
Rabu, 20 Des 2006 14:40 WIB
Jakarta - Data Depkes memperkirakan di Indonesia sekitar 9.000 ibu hamil positif HIV telah melahirkan. Sayangnya, pemerintah masih kurang memberi perhatian kepada mereka.Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Yayasan Pelita Ilmu Husein Habsy di sebuah kafe di Menara Jamsostek, JL Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (20/12/2006)."Tidak ada dana dari APBN untuk menangani ibu hamil yang masuk kategori orang dengan HIV/AIDS (ODHA)," ujar Husein.Selama ini, lanjutnya, ibu hamil ODHA ditangani melalui program bernama Prevention of Mother to Child HIV Transmition (PMTCT) dengan menggunakan dana dari pendonor. Sayangnya, kini dana itu telah habis dan belum dikucurkan lagi."Program PMTCT ini terhenti karena ada penghentian dana dari Global Fund sebagai lembaga yang mendanainya. Padahal program ini sangat berpengaruh dalam menurunkan angka bayi dengan HIV positif," ungkap Husein.Ditambahkan dia, apabila ibu hamil ODHA tidak mendapat perlakuan medis maka bisa lahir 3.000 bayi positif HIV. "Tidak pasti ibu hamil positif HIV akan melahirkan bayi yang positif tertular. Risikonya sekitar 25-45 persen," imbuhnya.Menurut Husein, ada 3 cara perlakuan pada ibu hamil ODHA untuk mengurangi risiko bayi yang dilahirkan juga terinfeksi HIV. Pertama, dengan menggunakan obat antiretroviral (ARV) pada saat kehamilan dan pascamelahirkan. Kedua, persalinan dilakukan dengan cara operasi cesar. Dan ketiga, memberikan susu formula kepada bayi yang dilahirkan, karena ASI berpotensi besar menularkan HIV."Orang yang butuh layanan seperti ini tidak bisa distop. Mereka kan perlu obat (ARV) yang harus diminum, biaya operasi cesar juga besar, sekitar Rp 5-8 juta sekali operasi. Belum lagi susu formula bagi bayi pascalahir," paparnya.Selain itu, pemerintah hanya menyediakan ARV yang umum diminum ODHA secara gratis. Padahal sebenarnya ada ARV Profilaksis yang biasa diminum oleh ibu hamil ODHA."Seperti di Thailand, pemerintah di sana serius dengan program PMTCT. Dan ternyata memang signifikan mengurangi bayi tertular HIV," tandas Husein.
(nvt/nrl)











































