Lagu Genjer-genjer Bergema Lagi

Lagu Genjer-genjer Bergema Lagi

- detikNews
Rabu, 20 Des 2006 06:42 WIB
Jakarta - Lagu Genjer-genjer yang menjadi 'soundtrack' film Pengkhianatan G30S/PKI terdengar lagi. Lagu itu dinyanyikan oleh sejumlah mantan tapol dan napol di Taman Ismail Marzuki, Cikini, dengan lantang.Genjer-genjer Nong kedok'an pating kelelerEmak'e tole, teko-teko mbubuti genjerOleh sak tenong Mungkor sedot seng tole-toleGenjer-genjer Saiki wis digowo mulehGenjer-genjer Isuk-isuk didol ning pasarDijejer-jejer, diuntingi, podo didasarEmae' Jebreng Podo tuku nggowo welasanGenjer-genjer saiki wis arep diolahItulah lirik lagu yang dinyanyikan di sela-sela peluncuran buku berjudul "Kembang-kembang Genjer" karya Fransisca Ria Susanti, di Taman Ismail Marzuki, Jl Menteng Raya, Jakarta, Selasa (19/12/2006).Hadir pula mantan anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Secara bergiliran mereka menceritakan apa yang mereka alami pada tahun 1965 hingga sekarang."Saya dipaksa mengakui perbuatan yang tidak pernah saya lakukan. Selama di penjara Plantungan, Kendal, Jateng, kami diperlakukan tidak baik. Ada yang disiksa dan bahkan diperkosa," ujar Mbah Noto (84).Hal senada disampaikan pula oleh mantan Sekjen II Gerwani Kartinah Kurdi. Perempuan 80 tahun itu mengaku tidak tahu alasan dia ditangkap. Sebagai simpatisan PKI, pada masa 1965-an, dia hanya berusaha memperjuangkan kesejahteraan, bukan melakukan kejahatan.Meski zaman telah banyak berubah, namun Kartinah merasa pemerintah belumberlaku adil kepada para mantan anggota PKI maupun simpatisannya. "Saya ini sudah tua. Adik, kakak, dan teman-teman saya banyak yang sudah mati. Tapi saya tidak bisa mendapat KTP seumur hidup," tuturnya. Selama ini, bila masa KTP-nya habis, dia harus memperpanjang. Padahal di usianya yang sudah uzur, untuk berjalan jauh sangatlah sulit. Inilah salahsatu perlakuan berbeda dengan orang yang bukan mantan PKI atau simpatisan."Inilah salah satu bukti, bahwa pemerintah kurang memperhatikan rakyat.Gerwani tidak jahat. Saya ingin nama saya dan Gerwani dibersihkan," cetusnya.Bagaimana dengan adanya seruan dari beberapa pihak agar mewaspadai bahaya komunis? "Kita terserah pada masing-masing, karena itu hak masing-masing,"kata dia.Percakapan seputar pengalaman masa lalu, soal 'genjer', soal sejarah masih dibicarakan di antara orang-orang yang tak lagi muda itu. Namun dari tiap kata yang keluar dari mulutnya, masih terus berharap ada keadilan. Karena bagi mereka, ada pihak yang memanipulasi sejarah. (nvt/bal)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads