ADVERTISEMENT

Updated

Dosen UIN: Al Quran Tak Menyebut Poligami itu Halal

- detikNews
Rabu, 06 Des 2006 08:30 WIB
Jakarta - Al Quran tidak menyatakan poligami adalah praktek yang halal. Meski Nabi Muhammad dalam hidupnya berpoligami, namun tidak pernah ada bukti Nabi berniat melakukan hal itu sejak awal pernikahannya."Tidak ada kalimat dalam Al Qur'an yang menyatakan poligami halal. Bahkan Nabi Muhammad pun pada awal pernikahannya tidak melakukannya," ujar dosen pascasarjana UIN Jakarta, Dr Musdah Mulia, dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (5/12/2006)."Kalau berpikir mau poligami, kan dari awal Nabi berpoligami. Buktinya sejak istri pertamanya wafat, Nabi menduda selama 3 tahun," jelas Ahli Peneliti Utama Litbang Depag ini.Saat berpoligami, Nabi Muhammad memperistri Saudah, perempuan yang berusia sekitar 65-73 tahun dan telah memasuki massa menopause. Selain itu, menurut Musdah, yang dinikahi Nabi, adalah perempuan dari berbagai suku. "Tujuannya untuk mendapat back up dalam perjuangannya," jelas penulis buku berjudul "Pandangan Islam tentang Poligami" ini.Dijelaskan dia, poligami telah dipraktekkan secara luas sejak massa Arab Jahiliyah di abad 7 Masehi. Saat itu bahkan seorang pria bisa beristri hingga 200 orang. "Sangat mustahil mencari pria beristri satu pada saat itu," lanjut Musdah.Ditambahkan dia, Al Quran mengangkat masalah poligami dalam Surat An-nisa karena realitas sosial pada saat itu tengah berkembang poligami. Dengan datangnya surat yang diwahyukan itu, Nabi pun membuat perubahan yang radikal sesuai dengan ayat yang menjadi petunjuk."Jadi awalnya membatasi kuantitas, dengan membatasi jumlah istri jadi 4. Setelah itu baru berkembang ke arah kualitas. Di sini keadilan dikedepankan. Jadi, jelas syarat poligami diperketat, mengingat sebelumnya tidak ada persyaratan apapun dalam poligami," terang Musdah.Yang menarik, lanjut perempuan kelahiran Bone Sulawesi Selatan ini, Nabi tidak mengizinkan menantunya Ali bin Abi Thalib memadu Fatimah az-Zahra dengan perempuan lain. Karena sebenarnya poligami mengandung unsur yang dapat menyakiti hati perempuan."Nabi tidak mengizinkan Ali berpoligami karena mungkin anak-anaknya masih kecil, atau dia tidak yakin Ali mampu bersikap adil," kata dia.Hal tersebut mengungkapkan tanggung jawab yang berat bagi suami yang berpoligami dan sulitnya istri menerima perlakuan poligami. "Karena itu bagi yang ingin berpoligami, dengan mengacu pada Al Quran, maka harus bisa berlaku adil. Dan jangan hanya merujuk pada satu ayat saja, tapi dipahami secara utuh," imbuh Musdah.Bahkan suatu poligami menjadi tidak sesuai dengan tuntutan Nabi mana kala istri dibiarkan terkatung-katung, karena merasa diperlakukan secara tidak adil.

(nvt/bdi)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT