Cerita ERP dari Singapura dan Melbourne

Cerita ERP dari Singapura dan Melbourne

- detikNews
Jumat, 24 Nov 2006 11:57 WIB
Jakarta - Singapura adalah kota pertama di dunia yang menerapkan electronic road pricing (ERP). Kota-kota besar lainnya banyak meniru sistem ini guna mengatasi kemacetan lalu lintas di pusat bisnis. Bang Yos rupanya tidak mau ketinggalan.Berikut ini pengalaman pembaca detikcom yang telah merasakan ERP di negeri singa dan Melbourne yang disampaikan lewat e-mail, Jumat (24/11/2006): Jeremy RaySaya rasa sistem ERP memang pas seperti di Singapura asal sistem bayarnya jangan pakai gerbang tol karena akan menambah antrean, namanya saja Electronic Road Pricing jadi yah harus electronic. Kalau ERP di Singapore sistemnya di setiap mobil disediakan alat yang ada slot cardnya. Jadi begitu kita memasuki wilayah ERP kartunya kita masukkan dan otomatis akan terpotong saldo di kartunya. Jadi bayarnya pakai kartu dan bisa diisi ulang. Di setiap wilayah ERP ada sensornya. Jadi kalau ada pengemudi yang tidak memasukkan kartunya pada saat masuk wilayah ERP, maka akan tertangkap sensor dan keesokan harinya tinggal menunggu saja surat tilang datang ke rumahnya. Apakah di Jakarta bisa dengan sistem seperti ini?Andreas OeiKalau efisien seperti di Singapura sih bagus, di tiap "jalan masuk" kawasan ERP ada sensor yang berinteraksi dengan sensor yang berada di mobil kita. Yang tidak bayar/melanggar, otomatis akan direkam dan dapat ditilang. Di Kuala Lumpur, masuk tol juga tak perlu membayar tunai, tinggal membeli alat sensor dan isi ulang. Setiap lewat tol akan menghitung sendiri berapa biaya dan mengurangi kredit di sensor tersebut. Jakarta? Mimpilah untuk melakukan itu dalam waktu singkat.Bobby SantSaya setuju dengan ERP karena akan mengurangi jumlah kendaraan yang masuk ke jalan tsb. Singapura sangat sukses menerapkan sistem ini. Untuk memperlancar, harus dipersiapkan sarana yang baik seperti di Singapura dengan sistem sensor elektronik. Jadi, mobil yang lewat harus memiliki kartu sepertt kartu telepon magnetik yang kalau lewat jalan tsb akan berkurang poinnya. Biaya tinggi? Nggak juga, soalnya 3 in 1 juga biaya tinggi. Harus cari joki yang faktor keamanannya masih dipertanyakan. Atau harus pergi pagi-pagi sekali atau juga harus melewati jam 3 in 1 yang artinya ada pembuangan waktu. HindartaMembaca ulasan saudara mengenai ERP gantikan 3 in 1, memang menurut saya, hal ini lebih fair dibandingkan dengan sistem 3 in 1, dan juga otomatis akan menambah jumlah pemasukan kas daerah, DKI tentunya. Tetapi, untuk implementasi di lapangan, hal ini juga akan sangat merepotkan, karena harus mempersiapkan petugas-petugas untuk melayani pembayaran (walaupun mungkin bisa lebih disederhanakan dengan sistem karcis langganan). Lain halnya dengan di luar negeri (Singapura), yang mana pada saat kita membeli mobil, sudah otomatis dan merupakan suatu keharusan terpasang ERP Card di mobil kita. Bahkan saat kita menjual mobil, langsung harus ganti nama ke pemilik baru. Selain itu, kita dapat dengan mudah untuk mengisi ulang ERP Card kita melalui bank atau ATM. Jika terjadi pelanggaran, misal dana di ERP Card tidak mencukupi dan ternyata yang bersangkutan nekat melewati ERP Zone, maka akan sangat mudah bagi pihak yang berwajib untuk melacak pelakunya, karena pemilik mobil, nama dan alamatnya jelas. Beda dengan di Indonesia, jika hal ini diterapkan, maka jika terjadi pelanggaran-pelanggaran seperti contoh di atas, kemungkinan besar sekali petugas akan sulit melacak pelakunya, karena seringkali pemilik mobil belum tentu alamatnya sesuai dengan yang tertera di STNK maupun KTP, dikarenakan tidak adanya sistem Single Identity Number dan juga tidak ada keharusan untuk balik nama untuk jual beli mobil. Oleh karena itu, harapan kita satu-satunya adalah dengan diterapkannya kesadaran diri yang tinggi sejak dini, yang pasti akan membutuhkan jangka waktu yang sangat lama, agar hal-hal seperti tersebut di atas dapat diterapkan di Indonesia. XaptaKesan yang saya dapatkan dari penerapan ERP di Singapore pada dasarnya baik. Kalau tidak salah mulai tahun 1998, untuk mengatasi kemacetan yang cukup parah di daerah CBD (Central Business District) di sana tiap pagi dan sore (peak hours) diberlakukan ERP. Sebagai catatan, kemacetannya belumlah separah Jakarta sekarang. Prinsipnya seperti jalan tol, namun tidak memakai manusia. Tiap mobil dipasangi internal unit (IU) yang dilengkapi antena, lalu cukup berjalan pelan, sekitar 10 km/jam (maksimal) ketika melewati gerbang yang ada charging unitnya (CU), melalui gelombang radio frekuensi tertentu terbacalah transaksi dari mobil tsb. Setiap transaksi mobil tidak perlu berhenti total, pengemudi tidak perlu membuka jendela, apalagi merogoh uang, tidak seperti di jalan tol. Problem yang mungkin timbul adalah ketika ada kerusakan. Kalau di IU, mobil jadi tidak bisa lewat gerbang, jadi harus keluar antrean. Kadang ini yang menimbulkan sedikit kekacauan. Melihat tingkat kedisiplinan pengemudi Jakarta, mungkin bisa jadi kekacauan besar. Apalagi kalau yang rusak adalah gerbang/CU-nya. Yang ini saya juga agak pesimis melihat kedisiplinan orang kita untuk urusan perawatan. Masalah yang kedua, kalau urusan pengadaan, perbaikan dan charging (seperti isi pulsa) IU-nya berurusan dengan birokrasi yang berbelit-belit, dan main uang. Jika masalah yang sebetulnya lebih bersifat mental itu bisa diatasi, mungkin untuk daerah-daereh tertentu ERP akan mengurangi kemacetan Jakarta, tapi meindahkan kemacetannya ke daerah lain. Mirip seperti 3 in 1. SakaMembaca berita detikcom tentang rencana penerapan ERP untuk jalan Thamrin-Sudirman, menurut hemat saya "mungkin" bisa mengurangi beban jalan yang saat ini sudah overload.ERP di Melbourne diterapkan pada salah satu ruas toll di inner city Melbourne menuju airport dimana setiap mobil harus memiliki alat sensor yang dikenal e-tag. Cara kerjanya, seperti alat barcode yang dipasang pada supermarket. Mobil tidak perlu membayar (seperti di jalan tol ibukota), namun ketika melewati mulut jalan, ada sensor elektromagnetik yang dipasang pada rambu pengarah jalan (terletak melintang seperti jembatan penyeberangan) berikut flashlight untuk merekam mobil yang melewati tanpa e-tag tersebut.Apabila suatu mobil tidak dipasang e-tag, maka mobil tsb akan difoto, dan denda akan dikirim ke alamat yang tertera pada registrasi plat mobil.Mobil dengan e-tag bisa setiap saat melewati toll sampai dengan masa berlaku e-tag tsb habis. Apabila ada pengemudi yang ingin sesekali melewati toll, diabisa membeli di supermarket seperti 7-Eleven. (nrl/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads