Jelang Pemilihan Rektor, Kampus UGM Diramaikan Orasi

Jelang Pemilihan Rektor, Kampus UGM Diramaikan Orasi

- detikNews
Jumat, 17 Nov 2006 14:34 WIB
Yogyakarta - Pemilihan rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) akan digelar Desember 2006. Menjelang saat-saat yang menentukan terpilihnya rektor baru, kampus UGM mulai diwarnai orasi terkait hal itu. Sistem pemilihan rektor dinilai kurang fair. Depdiknas juga diminta tidak turut campur. Situasi Kampus UGM Yogyakarta mulai 'memanas'. Jumat (17/11/2006), perhimpunan dosen UGM yang tergabung dalam Gerakan Keadilan dan Kebersamaan (GKK) dan puluhan anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) melakukan aksi mimbar bebas di halaman sayap selatan kantor rektorat UGM.Acara diawali dengan orasi dari guru besar Fisipol UGM, Prof. Dr. Nasikun. Dalam orasinya, Nasikun menyoroti belum terealisasinya anggaran pendidikan 20% di Indonesia, sebagai bentuk dari kegagalan bangsa Indonesia mengelola pendidikan. "Seharusnya anggaran pendidikan 20 % direalisasikan," ujar dia. Ketua BEM KM UGM, Agung Nugraha juga melakukan orasi. Dalam orasinya, Agung mengkritisi proses pemilihan rektor di UGM yang dinilainya bermasalah. Sebab, Majelis Wali Amanat (MWA) yang akan memilih rektor nanti sudah tidak valid, karena ada beberapa di antara mereka yang sudah pensiun. Menurut dia, pemilihan rektor baru UGM penuh dengan kepentingan politis. Padahal, menurut dia, institusi pendidikan seharusnya bebas dari pengaruh politik. "Kami tidak akan ikut terjebak ke dalam politik kampus tersebut," ujar dia. Sementara itu, perwakilan dari Fakultas Ilmu Budaya, Dr. Faroukh, menyayangkan keterlibatan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dalam proses pemilihan rektor UGM. Dalam pemilihan rektor, Depdiknas memiliki 35% hak suara. "UGM sudah berstatus BHMN (Badan Hukum Milik Negara), jadi seharusnya Depdiknas tidak ikut campur dalam pemilihan rektor UGM," pinta dia. Moderator dalam mimbar bebas ini dan sekaligus sebagai penggerak GKK, Joko Pitoyo, menyatakan, hari ini merupakan mimbar bebas pertama dan akan terus digelar secara berkala hingga hari H pemilihan. Menurut Joko, forum ini untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat, bahwa di UGM sebenarnya tidak baik-baik saja seperti yang selama ini terlihat. Joko menambahkan, forum BKK ini adalah forum yang akan menjembatani kepentingan mahasiswa dan para dosen, untuk menuju UGM yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Joko juga menantang nyali para calon rektor untuk ikut ambil bagian dalam mimbar bebas ini. "Silakan kepada para calon rektor untuk ikut ambil bagian dalam forum ini kalo bernyali," tuturnya.Aksi mimbar bebas ini menyita perhatian para civitas akademika UGM. Banyak mahasiswa dan dosen yang antusias mengikuti aksi mimbar bebas ini. Antara lain, dosen UGM yang selama ini bersuara lantang, seperti dosen Fisipol Heru Nugroho dan Ari Sudjito. (asy/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads