Psikolog: Pelaku Bom Bunuh Diri Adalah Orang Normal
Selasa, 10 Okt 2006 00:44 WIB
Jakarta - Banyak orang yang mencibir para pelaku bom bunuh diri. Bahkan tak jarang mereka dianggap sebagai orang yang tidak waras. Tapi, menurut psikolog UI Sarlito W Sarwono hal tersebut dianggap hal yang normal."Aksi sebuah teroris (bom bunuh diri) adalah sebuah kegiatan emosi yang normal," ujar Sarlito dalam acara jumpa pers di Hotel Le Meridien Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (9/10/2006).Sarlito menyangkal tuduhan bahwa pelaku bom bunuh diri, terutama di Indonesia, mengalami gangguan jiwa. Pelaku bom bunuh diri dinilainya memiliki skema emosi jihad. Skema tersebut akan berlanjut pada pembentukan tujuan dari aksi, lalu menentukan musuh bersama sehingga pada akhirnya memunculkan motivasi yang diperkuat dengan dukungan sosial.Pihak yang lebih pantas disebut sakit jiwa menurut Sarlito yaitu para komandan yang telah mengindoktrinasi pelaku bom bunuh diri. Tidak hanya publik, pelaku sebenarnya juga menjadi korban."Yang sakit adalah komandannya. Pimpinannya psikopat. Mereka menyuruh orang meledakkan bom padahal bom bisa diledakkan dari jauh," terang Sarlito.Pendapat senada juga disampaikan oleh mantan anggota Jamaah Islamiah Nasir Abbas. Nasir mengemukakan apa yang terjadi di Indonesia adalah bukan bom bunuh diri murni."Bukan murni suicide bomber. Komandannya membunuh mereka dengan menjadikannya pelaku," ujar Nasir.Pria berkewarganegaraan Malaysia ini menerangkan pelaku tidak mungkin melakukan bom bunuh diri jika tidak ada yang memerintahkan. Sang komandan yang lebih pintar memanipulasi pelaku yang lebih bodoh untuk mendapatkan keuntungan yaitu berupa sensasi."Komandannya itu pintar tidak mau mati. Disuruh anak buahnya untuk mati," tuturnya dengan logat Malaysia yang kental.
(gah/ahm)











































