Menpera Resmikan Rumah Tahan Gempa 7 SR

Menpera Resmikan Rumah Tahan Gempa 7 SR

- detikNews
Jumat, 06 Okt 2006 13:34 WIB
Yogyakarta - Menteri Negara Perumahan Rakyat M. Yusuf Asy'ari meresmikan 739 rumah bagi korban gempa di DIY dan Jawa Tengah. Peresmian dipusatkan di Dusun Kedaton Kidul Desa Pleret Kecamatan Pleret Bantul, Jumat (6/10/2006). Dari 739 rumah itu tersebar di 41 titik di wilayah Bantul, Sleman dan Klaten. Rumah-rumah yang dibangun atas bantuan sejumlah lembaga donor seperti Aksi Cepat Tanggap (ACT), Muslim Aid, Oxfam, Elnusa Emergency Response, Muslim Indo Texas, dan Tensey Ryo Dunlop Shirakawa. Dalam acara itu dihadiri juga Bupati Bantul, HM Idham Samawi, Ketua MPR Hidayat Nurwahid serta sejumlah perwakilan berbagai lembaga donor.Rumah tipe 36 itu merupakan rumah tahan gempa dengan bahan beton tulang, batu bata dan genting asbes maupun tanah liat. Dari 739 rumah tersebut, 99 di antaranya adalah rumah berkonstruksi tahan gempa hingga 7 SR. Selebihnya adalah rumah swadaya dengan model bantuan berupa dana stimulan dari donatur dan warga sendiri. Yusuf Asy'ari dalam sambutannya mengatakan pembangunan rumah korban gempa secara swadaya patut menjadi contoh daerah lain. Sebab dalam pembangunan rumah, warga mengutamakan aspek gotong royong dengan bahan yang masih banyak tersedia di lingkungan sekitar. Menurut dia, dengan segala kemampuan yang dimiliki warga dengan cepat membangun lagi rumahnya yang rusak. Masyarakat juga benar-benar dilibatkan dalam upaya memulihkan kondisi mereka sendiri. "Tidak semata-mata menengadahkan tangan. Itu yang patut dicontoh," katanya.Apabila pemerintah harus mencukupi semua rumah di Indonesia dengan berbagai bencana yang terjadi itu sangatlah berat. Hal itu tidak hanya disebabkan oleh adanya kesenjangan kepemilikan rumah,tapi juga ditambah rumah hancur yang berjumlah banyak serta cakupan wilayah yang sangat luas. Dia mengatakan saat ini pemerintah sedang berupaya menyediakan perumahan rakyat yang murah. Untuk wilayah perkotaan atau urban area pola pengembangan perumahan mengaju model rumah susun. Hal itu disebabkan keterbatasan tanah pemukiman dan harga tanah yang mahal di kota.Sedang di pedesaan atau rural area, bukan rumah susun yang dikembangkan tapi rumah biasa karena masih tersedia tanah yang cukup atau model landed house. Untuk di desa saat ini tidak ada masalah karena lahan masih mencukupi. "Tapi di kota banyak masalah karena lahan yang semakin sempit tapi jumlah penduduk semakinbertambah banyak, sehingga rumah susun merupakan salah satu cara penyelesaian," katanya. (bgs/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads