Banyak Perusahaan Tak Punya Program Pensiun yang Baik
Senin, 11 Sep 2006 17:09 WIB
Jakarta - Dalam beberapa tahun ke depan, pensiun akan menjadi permasalahan utama di banyak perusahaan. Tidak banyak perusahaan memiliki program pensiun yang baik.Hal tersebut diungkapkan Managing Consultant Watson Wyatt Indonesia, Lilis Halim dalam jumpa pers di Hotel JW Marriott, Jl Mega Kuningan, Jakarta, Senin (11/9/2006).Watson Wyatt adalah sebuah konsultan SDM. Mereka melakukan penelitian populasi yang menua untuk mengetahui permasalahan pensiun ini.Populasi yang menua adalah isu sosial ekonomi yang akan menjadi masalah besar di Asia Pasifik pada abad 21. Usia tenaga kerja semakin bertambah tua, sementara perusahaan dan karyawan yang belum siap menghadapi masa pensiun.Populasi yang menua akan berdampak besar terhadap pola rekrutmen karyawan. Termasuk soal beban biaya kesehatan dan pensiun yang harus ditanggung oleh perusahaan dan karyawan.Di Indonesia, Waston Wyatt mengadakan penelitian di 201 perusahaan di seluruh Indonesia pada Desember 2005 hingga Juni 2006. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara kepada para pemegang kebijakan perusahaan.Lilis mengatakan, sebanyak 76 persen perusahaan yang menjadi responden menyatakan dana Jamsostek tidak cukup menyejahterakan karyawan. Dana Jamsostek dinilai masih jauh dari kebutuhan perusahaan."Iuran Jamsostek untuk pensiun dari karyawan hanya 3,7 persen, dibantu perusahaan 1,6 persen. Jadi total hanya 5,3 persen dari gaji. Ini sangat minim untuk kesejahteraan," kata Lilis.Menurut Lilis, kondisi ini diperburuk dengan peraturan yang ada. Program pensiun ini belum terakomodasi dalam UU Ketenagakerjaan. Padahal untuk ke depan, peningkatan orang yang masuk masa pensiun tinggi."Untuk tahun 2030, diprediksi ada 28 persen pekerja akan memasuki masa pensiun. Ini akan menjadi beban bagi perusahaan," tutur Lilis.Bagaimana dengan perusahaan Anda?
(djo/sss)










































