Dubes J.E Habibie
Belanda Jangan Cerewet
Jumat, 08 Sep 2006 19:13 WIB
Den Haag - Lazimnya dubes adalah orang paling licin dan hati-hati berbicara. Namun JE Habibie, dubes RI mendatang untuk Belanda, justru berani ceplas-ceplos."Sudahlah jangan cerewet. (Kalau cerewet begitu) Maka (masa lalu) menggantung kembali. Itu penyebaran kebencian. Saya tak mau itu!" kata Habibie dalam wawancara dengan televisi Belanda, Netwerk.Pernyataan Habibie itu mengemuka saat dia ditanya apa sikap yang akan dia ambil jika dia dipanggil Kemlu Belanda terkait isu HAM di Indonesia. Setelah pernyataan Belanda jangan cerewet dalam hubungan bilateral, siaran menampilkan arsip pernyataan Yusril (Selasa, 7/10/2003, saat itu dia Menkeh HAM), yang dulu pernah menghebohkan: "Kami setiap hari dikritik Belanda soal HAM. Saya bisa saja mengajukan pertanyaan yang sama. Berapa banyak orang dibunuh Belanda selama periode penjajahan di masa lalu? Mereka tidak adil. Saya benci mereka,"Berikut ini petikan wawancara, yang disiarkan Kamis jam 19.30 atau Jumat (8/9/2006) jam 00.30 WIB dinihari.Apakah memang Belanda terlalu cerewet soal HAM?Ya! De pot verwijt de ketel dat hij zwart is. (Kuali menuding ceret bahwa dia hitam; peribahasa Belanda: menuding keburukan pada orang lain, padahal dia sendiri sama buruknya, red).Presiden tahu bahwa saya menguasai bahasa Belanda, tahu betul negeri itu, tahu kultur Belanda dan punya banyak kawan Belanda. Ini semua modal penting dan pertanda bahwa presiden ingin membangun hubungan bilateral yang baik antara Indonesia dan Belanda. Bagaimana dengan masa lalu?"Dat is voorbij! (Itu sudah berlalu!, red). Kita sekarang perlu menatap ke masa depan.Indonesia tidak memerlukan ungkapan maaf Belanda atas tindakan aksi polisional (versi Indonesia: agresi militer)? Generasi sekarang tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi. Hanya generasi pertama saja. The diehards. Yang beberapa tahun lagi, seperti juga saya, akan menemui ajal. Selanjutnya kita punya Indonesia baru.(Habibie mengajak ke Sunda Kelapa, memperlihatkan aktifitas di pelabuhan itu dan menjelaskan bahwa di sanalah kali pertama armada VOC berlabuh.) "Ini dulu pintu gerbang Indonesia," katanya.Apakah Anda mau pelabuhan ini kembali dipenuhi kapal-kapal Belanda?"Tentu saja. Mengapa tidak? Jika dari sini kami bisa mengekspor sebanyak-banyaknya ke Belanda, mengapa tidak?"Tapi tanpa bendera VOC?Nee! Tidak.(Habibie dinilai oleh presiden Yudhoyono sebagai orang yang tepat untuk misi lebih meningkatkan hubungan bilateral, dengan satu syarat bahwa Belanda harus mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17-8-1945. Narasi Netwerk menyebutkan, Belanda sendiri sudah bertekuk lutut Agustus tahun lalu di mana Menlu Bernard Bot hadir dalam upacara kenegaraan pada HUT Kemerdekaan ke-60 RI dan menyatakan bahwa Belanda secara moral dan politik mengakui Indonesia merdeka pada tanggal itu.)Apakah itu menjadi syarat utama untuk peningkatan hubungan kedua negara?Ya! Ketika Belanda menyatakan 'kami mengakui', situasi langsung mencair. Jangan cerewet, tapi bantu maju bersama. Dengan bergandengan tangan, mari kita menyongsong masa depan bersama-sama.
(es/)











































