Cerita Lansia Penumpang KRL Nyaris Jatuh gegara Lebarnya Celah Peron

ADVERTISEMENT

Cerita Lansia Penumpang KRL Nyaris Jatuh gegara Lebarnya Celah Peron

Mulia Budi - detikNews
Kamis, 26 Jan 2023 11:42 WIB
Celah peron terlalu lebar di Stasiun Tebet (Mulia Budi/detikcom)
Celah peron terlalu lebar di Stasiun Tebet (Mulia Budi/detikcom)
Jakarta -

Insiden lansia bernama Salatun (67) terjatuh di peron Stasiun Tebet, Jakarta Selatan (Jaksel), lantaran jarak peron dengan kereta yang tinggi viral di media sosial. Lansia bernama Ani Sulistiowati (60) mengaku juga nyaris terjatuh akibat perbedaan ketinggian peron dan kereta.

"Ibu pernah juga merasakan, karena terlalu tinggi, Ibu nyaris terjatuh, tapi diangkat, dibantu sama penumpang lain di dalam kereta. Alhamdulillah selamat karena terlalu tinggi memang betul banget itu, walaupun tidak di semua stasiun ya," kata Ani saat ditemui di Stasiun Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (26/1/2023).

Ani bersyukur tak terjatuh karena dibantu oleh penumpang lainnya saat hendak menaiki kereta. Dia menyebut tak semua stasiun memiliki jarak yang tinggi antara celah peron dan kereta.

"Ada beberapa stasiun yang tidak terlalu tinggi dan ada beberapa stasiun yang tinggi," ujarnya.

Dia mengatakan belum mengetahui insiden Salatun yang terjatuh di celah peron Stasiun Tebet. Ani mengatakan peristiwa dirinya nyaris terjatuh itu bukan terjadi di Stasiun Tebet.

"Bukan (di Stasiun Tebet waktu nyaris terjatuh itu), lupa Ibu, tinggi ya, sudah agak lama kejadiannya," imbuhnya.

Ani berharap pihak KAI Commuter memperhatikan ketinggian jarak peron dengan kereta di setiap stasiun. Menurutnya, perbedaan jarak yang tinggi itu menyulitkan untuk lansia.

"Ibu selaku lansia sangat-sangat berharap agar KAI itu memikirkan kembali terkait jarak peron dengan kereta," ucapnya.

Selain itu, Ani berharap petugas KAI Commuter yang berada di dalam kereta lebih cermat memperhatikan penggunaan bangku prioritas. Dia menyebut petugas kereta terkadang bersikap cuek sehingga lansia tidak mendapat bangku duduk.

"Terkait dengan petugas yang berada di dalam kereta ya, mohon dia lebih mencermati antara manula dan tempat yang khusus untuk para manula, disabilitas itu, agar petugas bener-bener memahami bahwa kami ini butuh duduk gitu, kadang-kadang petugas itu suka cuek walaupun tidak semua," tutur Ani.

Hal senada diutarakan lansia bernama Suherman (68). Menurut Suherman perbedaan jarak peron dan kereta di Stasiun Tebet akan menyulitkan penumpang lansia dan yang sakit.

"Kalau melihat situasinya, kalau yang naik sakit, memang tinggi, goyang. Kalau orang sehat, ya nggak," kata Suherman.

Suherman mengaku tak terlalu kesulitan saat menaiki maupun ketika turun dari kereta di Stasiun Tebet. Meskipun demikian, dia berharap ketinggian antara peron dan kereta itu tak berbeda jauh.

"Kalau bisa ya sama, biar lancar bagi orang yang sakit, bagi orang yang sehat nggak apa-apa," ujarnya.

Kemudian, pengguna kereta lainnya, Uliya (21), mengaku tak masalah dengan perbedaan celah dan ketinggian peron di Stasiun Tebet. Uliya merasa tak kesulitan menaiki maupun saat turun dari kereta di stasiun tersebut.

"Kalau menurut aku sih biasa saja. Soalnya karena masih muda, langkahnya masih normal. Kalau buat ibu-ibu, mungkin iya (kesulitan) karena mungkin langkahnya kayak pendek gitu ya," kata Uliya.

Respons KCI

Terkait kejadian lansia Salatun yang terjatuh di Stasiun Tebet, KAI Commuter telah merespons. KAI Commuter meminta maaf atas insiden tersebut.

"Kami mohon maaf dan turut prihatin atas kejadian tersebut. Perihal jarak antara peron dan kereta di Stasiun Tebet tersebut menjadi evaluasi kami ke depannya," tulis akun Twitter KAI Commuter.

Dalam kesempatan yang berbeda, Manajer External Relations & Corporate Image Care KAI Commuter, Leza Arlan, mengatakan perbedaan tinggi dan celah peron sudah menjadi perhatian khusus KAI Commuter.

"KAI Commuter juga secara bertahap menambahkan fasilitas bancik atau tangga portabel untuk mengatasi kendala tersebut," tutur Leza.

Leza menambahkan, beberapa waktu lalu, di Stasiun Kampung Bandan, yang merupakan stasiun transit, KAI Commuter menambahkan bancik di peron 5 dan 6 stasiun untuk membantu naik dan turun penumpang karena terdapat jarak celah peron dengan pintu commuter line dan saat ini progres pekerjaan bancik masih dilakukan diantaranya di Stasiun Tenjo, Stasiun Kemayoran, Stasiun Pasar Senen.

"Pada tahun ini, KAI Commuter juga memprogramkan peninggian peron pada stasiun Lintas Serpong, Stasiun Kebayoran, Stasiun Cisauk, Peron 1 Stasiun Kampung Bandan, dan Stasiun Jambu Baru. Peninggian peron ini juga paralel dengan penambahan ballast atau batu kricak di jalur rel," tambah Leza.

Penambahan batu ballast mengakibatkan jalur rel mengalami peninggian. Penambahan batu ballast ini juga dilakukan untuk memastikan keselamatan perjalanan kereta dan memastikan batas tinggi aman antara jalur rel dan kabel listrik aliran atas (LAA) sesuai.

Leza mengimbau seluruh pengguna commuterline di area peron untuk mendahulukan penumpang yang hendak keluar dari kereta. "Kami juga mengimbau kepada pengguna untuk tidak memaksakan diri untuk naik jika kondisi commuterline sudah terlalu penuh," lanjutnya.

(isa/isa)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT