Pengiriman Laskar Jihad Tidak Praktis
Selasa, 08 Agu 2006 21:54 WIB
Jakarta - Pengiriman laskar sipil oleh sejumlah organisasi masyarakat Tanah Air ke Palestina dan Libanon sama sekali bukan langkah yang praktis dan realistis untuk menghentikan agresi militer Israel."Hal tersebut tidak helpful terhadap situasi. Bahkan juga tidak praktis dan tidak realistis," kata juru bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (8/8/2006).Pernyataannya di atas menjawab pertanyaan wartawan mengenai tanggapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan akan diberangkatkannya puluhan anggota MMI (Majelis Mujahiddin Indonesia) ke Libanon dalam waktu dekat.Menurut Dino, pemerintah punya komitmen kuat memberikan kontribusi konstruktif untuk untuk memperbaiki situasi di Palestina dan Libanon. Bantuknya berpastisipasi aktif dalam struktur pasukan perdamaian PBB yang menjalankan mandat PBB untuk menjaga dan memelihara perdamaian setelah gencatan senjata."Inilah langkah paling konstruktif dan realistis untuk mencapai suatu perdamaian di lapangan," tegasnya. Sementara dari sisi kemanusiaan menyambut seruan Sekjen PBB Kofi Annan, Presiden SBY dalam surat yang dikirimkan semalam, menyatakan Pemerintah RI berkomitmen menyediakan dana sebesar US$ 1 juta untuk Libanon. Bantuan ini merupakan tambahan atas bantuan dalam jumlah sama yang ditujukan pada Palestina."Jadi totalnya ada US$ 2 juta. Bantuan akan dikirmkan dalam bentuk cash. Dengan pertimbangan lebih gampang tranfersnya dan cepat mencapai tujuan," imbuh Dino.
(ary/)











































