Hidup Mahal di Pedalaman

Hidup Mahal di Pedalaman

- detikNews
Senin, 31 Jul 2006 11:12 WIB
Wamena - Bagi sebagian besar orang, menerima gaji tetap Rp 1,25 juta setiap bulannya adalah sebuah cita-cita ideal. Terlebih bagi seorang guru hororer di daerah pedalaman. Uang senilai itu memang relatif cukup untuk biaya hidup sederhana keluarga selama sebulan. Bahkan berlimpah dalam ukuran kota kecil. Tapi Damius Wentan (35), guru SD di Kecamatan Kimping, Kabupaten Wamena, Papua, pendapatan bersihnya yang sebesar itu ternyata tidak cukup buat menghidupi seorang istri dan dua putranya. Keluarga asal Tiom ini pun terpaksa numpang tinggal di gereja demi menghemat pengeluaran. Sementara menambah penghasilan, sudah tujuh tahun terakhir Damius nyambi sebagai tukang pijit keliling. Target pasar Damius adalah para turis di Wamena. Siang sepulang mengajar sampai malam ia berkeliling ke penginapan dan hotel-hotel yang hanya ada lima buah untuk menawarkan jasa pijit pada para tamu. "Saya memijit sejak kelas dua SMP. Belajar dari keluarga," ujar Damius dengan logat khas Papua saat memperkenalkan diri. Damius tiap malam bisa mendapatkan uang Rp 50 ribu. Tapi hanya Rp 20 ribu yang bisa dibawanya pulang. Sisanya adalah uang taksi (angkutan pedesaan) dan tip bagi pegawai hotel yang mempertemukan dia dengan tamu yang ingin dipijit. Total pendapatan rata-rata tiap bulan Damius mencapai Rp 1,7 juta. Jumlah yang cukup untuk hidup layak di kota besar di Jawa. Namun di lembah Pegunungan Jayawijaya yang biaya hidupnya tiga kali lebih mahal dibanding Jakarta ini, nilai pendapatan Damius susut menjadi hanya Rp 600 ribu. Jangan kaget bila Anda harus bayar Rp 12 ribu untuk seporsi mie instan rebus -- tanpa telur, sayur, apalagi kornet. Nasi campur Rp 12 ribu dan nasi goreng ayam Rp 25 ribu. Lonjakan harga surat kabar nasional lebih menguras dompet. Bayangkan saja, dari harga bandrol resmi yang Rp 2.500, di Wamena menjadi Rp 23 ribu. Itu pun edisi kemarin lalu. Kendala tranportasilah yang jadi penyebab. Seluruh logistik harus dikirimkan dari Jayapura dengan pesawat terbang. Itu pun pesawat terbang kecil yang daya angkutnya terbatas dengan jadwal penerbangan minim dan sering tertunda akibat kendala cuaca. Setelah ditambah ongkos terbang, tak heran harga barang-barang di wilayah pedalaman menjadi mahal luar biasa. Nilai uang pendapatan orang seperti Damius pun terdepresiasi karenanya. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads