Kemensos Bagi Pengalaman Tangani Eks Napiter ke Pemerintah Kyrgyztan

ADVERTISEMENT

Kemensos Bagi Pengalaman Tangani Eks Napiter ke Pemerintah Kyrgyztan

Erika Dyah - detikNews
Jumat, 09 Des 2022 21:20 WIB
Kemensos dan Pemerintah Kyrgyzstan
Foto: Kemensos
Jakarta -

Kementerian Sosial menerima kunjungan Menteri Kehakiman Kyrgyzstan, Aiaz Baetov. Dalam kesempatan ini, Kemensos berbagi pengalaman Indonesia dalam mengatasi masalah terorisme dan radikalisme, khususnya dalam bidang rehabilitasi.

Dalam pertemuan yang berlangsung Selasa (6/12), Menteri Kehakiman Kyrgyzstan, Aiaz Baetov menyampaikan pihaknya menganggap Indonesia memiliki banyak pengalaman dalam menangani masalah gerakan teroris dan radikal. Untuk itu, ia berharap pengalaman Indonesia dapat membantu Kyrgyzstan menghadapi masalah serupa.

Menurutnya, Kyrgyzstan sebagai tetangga dekat Afghanistan menjadi akses yang cukup mudah bagi warga negaranya untuk bergabung dengan kelompok ekstremis. Mereka terlibat gerakan radikal di Irak, Afghanistan, dan Syria. Kini Kyrgyzstan menghadapi gelombang deportan dan returnis yang pulang kampung.

"Kami menghadapi masalah-masalah baru. Oleh karena itu kami perlu memahami langkah ke depan dan bergabung dengan negara lain untuk mencari solusi. Karena itu kami sangat berterima kasih sudah diterima di Indonesia. Kami sangat berharap bisa saling berbagi pengalaman," ungkap Baetov dalam keterangan tertulis, Jumat (9/12/2022).

Sekretaris Ditjen Rehabilitasi Sosial Salahuddin Yahya mengungkapkan Kemensos memiliki Direktorat Korban Bencana dan Kedaruratan (KBK) dan Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak yang memberikan program rehabilitasi sosial bagi eks napiter, keluarga, dan anak terpapar radikalisme.

"Di kami bekerja sama dengan lembaga dan kementerian lain untuk memberikan layanan yang komprehensif," kata Salahuddin.

Plt. Direktur Rehabilitasi Sosial KBK sekaligus Direktur Rehabilitasi Sosial Anak, Kanya Eka Santi menambahkan Indonesia mengalami masalah yang relatif sama dengan Kirgizstan. Menurutnya, paham ekstremisme kekerasan telah menjalar ke seluruh komponen keluarga, yaitu perempuan dan anak.

Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya menggunakan pendekatan berbasis residensial, keluarga, dan masyarakat. Untuk eks napiter misalnya, diberikan program pemberdayaan seperti keterampilan yang disalurkan melalui keluarga dan Lembaga Kesejahteraan Sosial.

"Kami berikan pelatihan seperti cuci mobil, bengkel, atau usaha lainnya. Dengan pemberian modal dari kami. Jadi mereka bisa berjualan dan beternak. Di Sulawesi Tengah kami memberikan dukungan kepada 30 orang eks napiter untuk mendukung usaha mandiri," jelas Kanya.

Selain itu, Kemensos memiliki sentra berbasis residensial yang menyediakan layanan rehabilitasi sosial bagi keluarga dan anak yang terpapar radikalisme. Untuk para deportan dari luar negeri, returnis dari Syria, dan orang-orang yang ditangkap oleh Densus 88 di dalam negeri.

"Namun Sentra Kemensos hanya menangani individu dan keluarga dengan tingkat radikalisme rendah hingga sedang," paparnya.

Kanya merinci rehabilitasi di sentra mencakup pemenuhan kebutuhan dasar, pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh, terapi psikososial dan mental spiritual, dukungan keluarga, pelatihan vokasional dan/atau pembinaan kewirausahaan, dan dukungan aksesibilitas seperti pendidikan. Ia menilai pendidikan sebagai hal penting, mengingat banyak anak-anak yang terlibat jaringan terorisme putus sekolah dan menjalani homeschooling versi orang tuanya.

"Kalau anak-anak kita support sekolahnya, ada juga yang mau kuliah kita support. Termasuk sarprasnya kita dukung seperti laptop, sepeda, seragam dan lainnya sehingga hak mereka untuk pendidikan bisa terpenuhi," ujar Kanya.

Tak kalah penting, pihaknya juga memberi bimbingan wawasan kebangsaan. Dalam beberapa kasus, anak-anak yang terpapar paham radikal cenderung bersikap intoleran dan anti terhadap simbol-simbol negara.

"Salah satu cara, kita ajarkan kembali untuk menyanyikan lagu kebangsaan," tutur Kanya.

Selain itu, Kemensos juga mengundang eks napiter yang kembali setia kepada negara untuk berbagi pengalaman kepada eks napiter lain, individu, dan anak yang terpapar.

"Anak-anak biasanya sangat mengidolakan teroris tertentu. Mendengarkan arahan idolanya diharapkan membantu mereka kembali ke jalan yang benar," kata Kanya.

Kepala Sentra Handayani, Romal Uli Jaya Sinaga menambahkan hingga saat ini pihaknya telah memberikan rehabilitasi sosial kepada 258 anak dan keluarga yang terpapar radikalisme sejak 2016. Romal menuturkan rehabilitasi yang diberikan menekankan pendekatan biopsikososial dan adanya interaksi terbuka di tempat rehabilitasi.

Sentra Handayani memberikan layanan kepada anak returnis, deportan, dan penangkapan Densus 88 di dalam negeri. Anak-anak ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu anak korban jaringan terorisme dan anak berhadapan dengan hukum (ABH) kasus terorisme.

"ABH kasus terorisme biasanya memiliki pemahaman yang kuat dan rentan menyebarkan paham itu kepada anak lainnya. Oleh karena itu, mereka ditempatkan di fasilitas transit untuk dilakukan observasi terhadap perilaku mereka. kekerasan bagi kedua belah pihak," pungkas Romal.

(ncm/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT