PBHI Minta Komnas HAM Periksa Pihak BPOM-Kemenkes soal Gagal Ginjal

ADVERTISEMENT

PBHI Minta Komnas HAM Periksa Pihak BPOM-Kemenkes soal Gagal Ginjal

Brigitta Belia - detikNews
Jumat, 09 Des 2022 19:03 WIB
Koordinator Program di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Julius Ibrani
Julius Ibrani (Brigitta Belia/detikcom)
Jakarta -

Koordinator Program di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Julius Ibrani menilai pihak BPOM dan Kemenkes terkesan lepas tangan terkait gagal ginjal akut. Julius meminta Komnas HAM memeriksa BPOM dan Kemenkes terkait kasus ini.

"Kami memperhatikan betul konpers BPOM dengan Kemenkes yang dari awal cenderung lepas tangan. Ia mengatakan bahwa produk ini produk yang legal yang melewati prosedur secara sah sampai terbit produk itu. Tapi mereka nggak bertanggung jawab ini hal yang aneh ya. Kalau sampai racun di dalamnya berarti mereka berdua (BPOM dan Kemenkes) yang bertanggung jawab," kata Julius kepada wartawan di Gedung Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (9/12/2022).

Julius mengatakan BPOM dan Kemenkes harus diperiksa oleh Komnas HAM soal gagal ginjal akut ini. Ini dilakukan agar dapat mengetahui, apakah ada sistem yang bermasalah dan tentang perizinan pengedaran obat-obatan.

"Dari BPOM, Kemenkes ada siapa lagi itu, juga harus diperiksa oleh Komnas HAM. Karena kalau ternyata ditemukan sistemnya bobrok dan korupsi, lalu perizinan yang di dalamnya kalau ternyata ada kelalaian dalam hal pemeriksaan izin laboratorium, maka ini nggak akan menyelesaikan persoalan, bisa jadi yang lain juga sama," ujarnya.

Julius menyoroti terkait penarikan produk obat-obatan bermasalah. Ia mendorong Komnas HAM dapat melihat struktur administrasi dari lembaga negara tersebut.

"Hari ini kami melihat bahwa tidak ada penarikan produk-produk yang bermasalah. Itu yang kami dorong kepada Komnas HAM untuk melihat struktur, melihat administrasi terutama bagaimana negara harus bertanggung jawab," pungkasnya.

(lir/lir)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT