Wapres: Tanpa Aksi Nyata Penurunan Stunting Hanya Akan Jadi Wacana

ADVERTISEMENT

Wapres: Tanpa Aksi Nyata Penurunan Stunting Hanya Akan Jadi Wacana

Dea Duta Aulia - detikNews
Selasa, 06 Des 2022 14:49 WIB
Wapres Maruf Amin (dok. Setwapres)
Foto: Wapres Ma'ruf Amin (dok. Setwapres)
Jakarta -

Wakil Presiden Ma'ruf Amin meminta implementasi aksi nyata penurunan stunting ditingkatkan demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. Menurutnya, jika implementasi penurunan stunting tidak ditingkatkan maka bisa berdampak buruk terhadap mutu suatu bangsa.

"Mari kita bekerja sama untuk menurunkan stunting. Tanpa aksi-aksi nyata penurunan stunting hanya akan menjadi wacana dalam forum diskusi tapi sepi dalam implementasi," kata Ma'ruf saat ditemui detikcom pada Forum Nasional Stunting 2022 di Jakarta, Selasa (6/12/2022).

"Upaya kita saat ini akan menentukan mutu generasi penerus bangsa yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan dan pembangunan Indonesia di masa depan," imbuhnya.

Meskipun begitu, Ma'ruf menilai untuk menekan angka stunting memang tidaklah mudah. Ada sejumlah tantangan yang mesti dihadapi, salah satunya terkait tata kelola. Menurutnya, masalah besar tata kelola disebabkan karena koordinasi yang kurang maksimal. Ia pun meminta agar koordinasi sejumlah kementerian dan lembaga di berbagai tingkat pemerintahan bisa dimaksimalkan.

"Gubernur dan wakil gubernur, wali kota, bupati saya minta untuk memimpin secara langsung koordinasi program dalam lingkup kewenangannya," katanya.

Kendala lainnya yakni terdapat pada garda di tingkat desa dan masyarakat. Ia menjelaskan kapasitas SDM, sarana dan prasarana, koordinasi antara pelaksana, serta dukungan operasional harus dioptimalkan.

"(Sebab) banyak kader yang masih bekerja secara sukarela di lapangan. Kader-kader ini tentu butuh pengorganisian dan pembagian peran yang baik. Mereka perlu dibekali pengetahuan, alat kerja, dan dukungan operasional yang mencukupi," ujarnya.

Adapun kader yang berada di garda depan yakni posyandu, tim penggerak PKK, Penyuluh Keluarga Berencana, bidan desa, kader sanitasi, pembangunan manusia, karang taruna, hingga petugas puskesmas.

"Para kader sangat potensial untuk diandalkan berada di garda depan," katanya.

Sementara itu, Ketua BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan ada sejumlah langkah yang dilakukan oleh BKKBN untuk menurunkan angka stunting di Indonesia, salah satunya melalui Program Bapak Asuh Anak Stunting. Program tersebut dibentuk dengan semangat gotong royong untuk mengajak masyarakat agar turut membantu bersama menekan angka stunting.

"Jumlah capaian keluarga risiko stunting yang saat ini sudah didampingi oleh Bapak Asuh Anak Stunting mencapai 13 ribu lebih," kata Hasto.

Ia mengatakan langkah itu juga dilakukan agar angka stunting di Indonesia mencapai 14% di tahun 2024. Sehingga SDM menjadi lebih berkualitas dan bisa bersaing secara global.

"Kita pahami sekarang stunting masih perhatian pertama Pemerintah Indonesia untuk mencetak SDM berkualitas guna mewujudkan Indonesia maju," tutup Hasto.

(akn/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT