Kesaksian Menggegerkan Eliezer: Tawa Sambo hingga Tangis Wanita Misterius

ADVERTISEMENT

Kesaksian Menggegerkan Eliezer: Tawa Sambo hingga Tangis Wanita Misterius

Zunita Putri, Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Sabtu, 03 Des 2022 13:01 WIB
Jakarta -

Mantan ajudan Kadiv Propam Ferdy Sambo, Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu, memberikan sejumlah kesaksian menggegerkan dalam sidang lanjutan kasus pembunuhan Brigadir N Yosua Hutabarat. Salah satu pernyataan Eliezer yang menggegerkan ialah tawa Sambo usai Yosua tewas.

Kesaksian tersebut disampaikan Eliezer saat menjadi saksi dalam sidang terdakwa Kuat Ma'ruf dan Bripka Ricky Rizal di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Rabu (30/11/2022). Eliezer sendiri merupakan salah satu terdakwa dalam kasus ini.

Berikut sejumlah kesaksian Eliezer yang bikin geger:

Sambo Tertawa Usai Pembunuhan Yosua

Eliezer menyebut dia bersama Bripka Ricky sempat berkumpul dengan Ferdy Sambo setelah membunuh Yosua. Dia menyebut Ferdy Sambo tertawa sambil menyebut salah menggunakan senjata saat membunuh Yosua.

Eliezer mengatakan dia dan Bripka Ricky dipanggil untuk menghadap Sambo di kediamannya. Berulang kali, katanya, Ferdy Sambo tertawa menjelaskan salah menggunakan senjata saat mengeksekusi Yosua.

"Itu bukan di Provos, tapi di kediaman. Jadi saat itu ada saya, Bang Ricky juga. Sempat beliau berulang-ulang kali ke kami bilang sambil ketawa, sempat bilang salah pakai senjata," kata Richard di ruang sidang, Rabu (30/11/2022).

"Penyampaian itu kayaknya ada yang salah, sambil ketawa?" tanya jaksa.

"Iya sambil ketawa dia," jawab Richard.

"Salah tembak kah?" timpal Jaksa

"Salah pakai senjata," jawab Richard.

Namun, kesaksian Eliezer itu dibantah oleh Ricky. Ricky mengatakan Ferdy Sambo tidak pernah menyampaikan salah menggunakan senjata dan tertawa.

"Saya tidak pernah disampaikan sama Bapak beliau salah tembak yang menggunakan senjata itu bersama RE," kata Ricky.

"Maksudnya?" tanya hakim.

"Tadi Saudara RE menyampaikan beberapa saat setelah penembakan, kami dikumpulkan dan kami dipanggil terus disampaikan Bapak itu salah tembak sampai ketawa-ketawa sama RE, sama saya. Bahwa beliau salah menggunakan senjata, salah nembak, saya tidak pernah mendengar itu dari Bapak FS," papar Ricky.


Takut Bernasib Seperti Yosua

Eliezer juga menjelaskan alasan dirinya tak berani menolak perintah Ferdy Sambo untuk menembak Yosua. Eliezer mengaku takut bernasib seperti Yosua.

"Memang Ferdy Sambo ini siapa sih? Kenapa kok bisa ditakuti? Dia kan penegak hukum?" tanya hakim di ruang sidang

"Takut, yang mulia," jawab Richard.

"Kenapa takutnya?" timpal hakim

"Saya pada saat dia kasih tahu (skenario pembunuhan) ke saya di Saguling pikiran saya, saya akan sama seperti almarhum yang mulia," jelasnya.

Eliezer juga mengatakan perbedaan pangkat Ferdy Sambo yang saat itu Jenderal Bintang dua dengan jabatan Kadiv Propam Polri menjadi alasan dirinya tak bisa menolak perintah. Richard mencontohkan perbedaan pangkat dia dengan Sambo bagaikan langit dan bumi.

"Ini jenderal bintang dua menjabat sebagai Kadiv Propam, yang mulia, dan posisi saya saat itu sampai saat ini, jabatan saya Bharada, pangkat terendah. Dari pangkat saya bisa lihat rentang pangkat itu bagai langit dan bumi," kata dia.

"Jangankan jenderal, sesama Bharada kalau dia beda satu pangkat sama saya dia suruh saya jungkir, saya jungkir. Saya tidak berani menolak, kalau dia suruh push-up saya lakukan. Apalagi ini jenderal," imbuhnya.

Richard menegaskan dirinya merasa berdosa dan bersalah karena mengikuti skenario yang dibuat Sambo untuk membunuh Yosua.

"Saya merasa berdosa, merasa bersalah. Karena saya mengikuti apa yang diperintahkan beliau," ujarnya.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT