Banyak Anak Jadi Korban Gempa Cianjur, KPAI Buka Posko Pengawasan

ADVERTISEMENT

Banyak Anak Jadi Korban Gempa Cianjur, KPAI Buka Posko Pengawasan

Azhar Bagas Ramadhan - detikNews
Sabtu, 26 Nov 2022 12:22 WIB
Sejumlah anak mengikuti sesi pemulihan trauma oleh Komunitas Cinta Anak Bangsa di pengungsian Benjot, Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Jumat  (25/11/2022). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/rwa.
Foto: ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA
Jakarta -

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) turut memberi pengawasan kepada anak korban gempa di Cianjur, Jawa Barat. KPAI juga telah mendirikan tiga posko di lokasi.

"KPAI telah melakukan pengawasan pada 24-26 November 2022 di tiga titik posko pengungsian, yakni Desa Sukamaju, Desa Mekar Sari, dan Desa Limbangansari, Kecamatan Cianjur," kata komisioner KPAI Ai Maryati Solihah dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (26/11/2022).

Dalam pengawasannya, KPAI memberikan sejumlah rekomendasi. Pertama, berkoordinasi dengan BNPB dalam mengidentifikasi korban dewasa dan anak secara terpisah.

Kedua, KPAI meminta BNPB serta tim SAR gabungan segera mengidentifikasi 39 korban yang hilang. Dikhawatirkan masih banyak anak korban yang belum ditemukan.

"Kementerian dan lembaga terkait, Kemensos RI, Kemen PPPA RI, dan BNPB penting segera membangun data terpilah korban dewasa dan anak sebagai dasar perencanaan pelaksanaan penanganan korban secara optimal, terutama terhadap dukungan logistik dan pemulihan psikososial bencana spesifik bagi anak dalam situasi darurat," katanya.

Kementerian PUPR dan BNPB juga direkomendasikan merespons buruknya fasilitas sanitasi di area pengungsian. Hal ini guna menghindari timbulnya beragam masalah baru pada kesehatan keluarga dan anak.

Lalu, Kemensos, Baznas, hingga KPPPA RI disarankan meningkatkan penyaluran bantuan dengan data yang terintegrasi. Hal ini guna menghindari tersendatnya, bahkan tidak meratanya bantuan, terutama kebutuhan perempuan dan anak.

"Diperlukannya evaluasi berkala yang melibatkan para pemangku kepentingan dan koordinasi berkelanjutan guna menjangkau titik-titik lokasi pengungsian yang belum terjangkau," ujarnya.

"Agar dapat mengoptimalkan penyediaan dan distribusi logistik perlengkapan dan makanan ramah anak yang spesifik, seperti susu formula, susu anak pertumbuhan, MPASI (makanan pendamping ASI), makanan tambahan balita, kebutuhan obat-obatan dan gizi anak, children kit dan baby kit yang harus terintegrasi dalam pasokan logistik ke posko-posko pengungsian," tambahnya.

Selanjutnya, pihak terkait juga disarankan membangun kolaborasi dengan masyarakat dan dunia profesi dalam memastikan layanan psikososial dan dukungan keluarga, terutama anak-anak, yang saat ini masih minim penanganan dan dalam situasi terdampak psikologis. Yakni agar segera dilakukan asesmen penanganan dukungan psikologis dengan melibatkan psikolog dan psikolog klinis.

"Kementerian dan lembaga terkait, Kemenag RI dan Kemendikbud RI, agar segera melakukan upaya pendataan anak di posko-posko pengungsian untuk mendapat program mitigasi pendidikan kurikulum dalam situasi bencana. Selain itu, penting memastikan bantuan terhadap sekolah-sekolah dan madrasah serta lembaga pendidikan lainnya yang terdampak untuk segera diperbaiki agar menjadi prioritas mengembalikan situasi anak pada kondisi yang berangsur normal," ujarnya.

Lebih lanjut, Kementerian Kominfo dan seluruh pemangku kepentingan serta masyarakat diminta bahu-membahu mengedukasi literasi kebencanaan secara digital maupun sosial. Serta menghindari berita hoax dan simpang-siurnya informasi gempa susulan yang menimbulkan kepanikan sosial.

"Untuk itu, sangat penting dilakukan rechecking (pemastian kembali) supaya dapat menyeleksi dan tidak memberikan informasi yang tidak benar," katanya.

Terakhir, KPAI juga mengajak seluruh warga masyarakat Cianjur menjadi bagian dalam melindungi anak-anak korban gempa dalam kerangka penguatan pemenuhan hak dan perlindungannya sesuai dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

"Bahwa anak korban situasi darurat di dalamnya mereka yang menjadi korban bencana alam memiliki hak atas pemenuhan hak dan perlindungan khusus agar anak-anak mendapat penanganan yang sesuai dengan tumbuh kembangnya serta menikmati kehidupan secara wajar," tutupnya.

Sebelumnya, korban tewas akibat gempa magnitudo (M) 5,6 di Cianjur, Jawa Barat, bertambah. Korban tewas menjadi 310 orang.

"Yang jumlah meninggal sampai saat ini menjadi 310 orang, dan yang masih belum diketemukan adalah 24 orang," ujar Kepala BNPB Suharyanto dalam konferensi pers, Jumat (23/11).

Suharyanto mengatakan tim SAR akan terus mencari korban yang hilang tersebut.

"Sehingga, 24 orang ini masih dicari terus. Tapi 24 orang ini sudah jelas identitasnya. Kalau ditemukan, tinggal dikurangi jumlah yang hilang," katanya.

Simak Video 'Curhat Pengungsi Gempa Cianjur: Mekanisme Logistik Jangan Dipersulit':

[Gambas:Video 20detik]



(azh/dhn)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT