KPAI Apresiasi Polisi Cepat Usut Kasus Siswa SD Malang Dibully hingga Koma

ADVERTISEMENT

KPAI Apresiasi Polisi Cepat Usut Kasus Siswa SD Malang Dibully hingga Koma

Eva Safitri - detikNews
Jumat, 25 Nov 2022 06:03 WIB
Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti bersama Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Pendidikan Kreatifitas dan Budaya, Kementrian PPPA, Evi Hendrani memberi pernyataan pers terkait Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tingkat SMA di gedung KPAI, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (17/4/2018). KPAI menilai  terjadi malpraktik dalam dunia pendidikan karena soal yang diujikan tidak pernah diajarkan sebelumnya dalam kurikulum sekolah.
Komisioner KPAI bidang pendidikan Retno Listyarti (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -

KPAI buka suara terkait kasus bullying seorang siswa SD di Malang berinisial MWF (8) hingga koma oleh kakak kelas. KPAI mengapresiasi respons cepat polisi mengusut kasus tersebut.

"Mengapresiasi pihak kepolisian yang respon cepat memeriksa sejumlah saksi dan anak-anak terduga pelaku. Pemeriksaan terhadap anak-anak di bawah umur tersebut juga dilakukan sesuai prinsip UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA). Hasil pemeriksaan memang menunjukkan terjadinya kekerasan fisik yang dilakukan oleh 7 anak lainnya terhadap anak korban," kata Komisioner KPAI bidang pendidikan Retno Listyarti kepada wartawan, Kamis (24/11/2022).

Di samping itu, Retno mengatakan perlunya pendampingan psikologis terhadap peran terduga pelaku yang masih berusia di bawah umur agar tidak lagi berbuat hal serupa. Dia meminta para orang tua pelaku untuk memperbaiki pola pengasuhan terhadap anaknya.

"Pihak Kepolisian sesuai dengan UU SPPA juga akan mengupayakan diversi mengingat anak-anak pelaku masih berusia SD, kemungkinan di bawah 12 tahun. KPAI mendorong anak-anak pelaku mendapatkan pendampingan psikologis agar menyadari kesalahannya dan tidak mengulangi perbuatannya di kemudian hari atau ada efek jera," ujarnya.

"Orang dewasa di sekitar anak, terutama orangtua harus memperbaiki pola pengasuhan yang positif demi tumbuh kembang anak secara optimal," lanjut Retno.

Retno mengatakan pola pengasuhan penting terhadap pembentukan karakter anak. Menurutnya, pola pengasuhan yang positif akan membuat anak memiliki rasa welas asih untuk saling menghargai sesama, begitu juga sebaliknya.

"Kekerasan bagaimanapun tidak boleh dilakukan siapapun dan dengan dalih apapun. Perilaku anak sangat dipengaruhi oleh pengasuhannya di lingkungan keluarga sebelum anak memasuki pendidikan berbasis sekolah, karena keluarga merupakan tempat pertama dan utama dalam menanamkan dan membentuk karakter anak," ucapnya.

"Pengasuhan yang positif akan membuat anak-anak tumbuh kembang secara optimal dan berperilaku welas asih dan menghargai hak asasi manusia. Sebaliknya pengasuhan yang negative, seperti sering dipukul dan dimaki, maka anak akan membentuk karakter penuh kekerasan karena meniru orang dewasa di sekitarnya, anak belajar dari apa yang dia lihat dan dia alami," lanjut Retno.

Lihat juga video 'Viral Video Pelajar di Lampung Di-Bully & Dianiaya'


[Gambas:Video 20detik]



Simak selengkapnya di halaman berikut

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT