Rombongan Rubicon Ngaku Diundang Disbudpar Jatim Hadiri Acara di Bromo

ADVERTISEMENT

Rombongan Rubicon Ngaku Diundang Disbudpar Jatim Hadiri Acara di Bromo

Denza Perdana Kurniaputra - detikNews
Rabu, 23 Nov 2022 18:06 WIB
Undangan disbudpar untuk komunitas rubicon
Undangan acara East Java Fashion Harmony IV 2022 dari Disbudpar Jatim untuk Komunitas JK Owners East Java (JKOEJ). (Dok. Istimewa)
Jakarta -

Rombongan Rubicon yang viral memaksa masuk Bromo dan cekcok dengan petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) buka suara. Mereka mengaku menerima undangan resmi East Java Fashion Harmony IV 2022 dari Disbudpar Jatim yang ditujukan untuk Komunitas JK Owners East Java (JKOEJ).

Dilansir detikJatim, Rabu (23/11/2022), Ketua Umum Komunitas JKOEJ Bambang Agus Hendroyono menjelaskan bahwa komunitasnya memegang semua dokumen sah yang dibutuhkan untuk masuk ke Bromo. Bambang juga memberikan bukti undangan Disbudpar Jatim dan bukti tiket masuk wisata Bromo kepada detikJatim.

"Nah, karena itu undangan dari instansi, ditujukannya juga jelas kepada Ketua Umum JKOEJ di awal November, kami prepare. Kami rapatkan dan kami putuskan hadir. Kami persiapkan segala sesuatunya. Termasuk izin tiket online sudah kami beli, hotel pun sudah kami booking di Lava View," ujarnya kepada detikJatim, Rabu (23/11).

Namun, kata Bambang, rombongannya tiba-tiba dihadang saat menjelang masuk Pananjakan. Rombongan komunitasnya dilarang melintas karena petugas TNBTS itu menyebutkan bahwa acara East Java Fashion Harmony IV tahun 2022 tidak digelar pada 20 November, melainkan pada 3 Desember 2022. Padahal, dari undangan yang mereka dapat, acara digelar pada Minggu, 20 November 2022, di Pelataran Bukti Widodaren, Kawasan Gunung Bromo.

"Waktu itu kami sudah mau masuk Penanjakan itu kami dihadang sama teman-teman itu. Nggak tahu teman-teman siapa saja. Intinya kami datang baik-baik. Kami ngomong juga baik-baik, kok. Kami tunjukkan ini ada undangan, ini kami sudah booking hotel di Lava View, ini tiket (masuk Bromo) kami. Tapi itu semua tidak diterima," ujar Bambang.

Sebelum cekcok terjadi, rombongannya sempat menanyakan ke mana mereka harus melintas bila memang tidak boleh melalui jalur Pananjakan, Pasuruan? Para petugas TNBTS itu disebutnya mengarahkan untuk keluar melalui jalur Tongas untuk menuju hotel tempat mereka hendak menginap.

Pada saat itulah, menurut Bambang, cekcok terjadi. Ada salah satu petugas yang berbicara dengan nada tinggi sehingga menyulut emosi salah satu anggota komunitasnya. Padahal tadinya pria yang dia minta untuk mewakili koordinasi menyampaikan maksud secara baik-baik.

"Gara-gara saat itu ada yang ngomong agak keras akhirnya sama-sama emosi. Tapi, ya, itu tadi, orang kalau sudah emosi mengambil satu keputusan kan tidak bijak. Ya akhirnya dari teman-teman kami ada yang emosi. Seperti yang di TikTok itu kan diviralkan. Mereka yang sengaja memviralkan. Itu sebenarnya potongan tengah yang waktu emosi. Yang awal dan di akhir tidak di-upload. Itu jeleknya," ujarnya.

Pada akhirnya rombongannya mengalah dan tidak memaksa untuk melintas jalur Pananjakan. Mereka memilih menuruti arahan dari para petugas itu untuk memutar melewati Tongas meski waktu tempuhnya lebih dari 2 jam hingga akhirnya tiba ke hotel tempat mereka menginap. Bambang pun mengaku memiliki rekaman kejadian yang sesungguhnya.

Baca selengkapnya di sini.

Simak Video 'Bawa-bawa Nama Khofifah, Pengendara Rubicon Paksa Masuk Kawasan Bromo':

[Gambas:Video 20detik]

(mae/idh)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT