Prihatin Kasus Siswa Tendang Siswi, KPAI Singgung Problematika Remaja

ADVERTISEMENT

Prihatin Kasus Siswa Tendang Siswi, KPAI Singgung Problematika Remaja

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Selasa, 22 Nov 2022 07:39 WIB
Rita Pranawati
Rita Pranawati (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) prihatin dengan aksi pelajar menendang nenek di Tapanuli Selatan dan siswa tendang siswi di Nganjuk, Jawa Timur (Jatim). KPAI menilai remaja harus didampingi dengan ketat karena sedang mencari jati diri.

"Remaja itu kan masa mencari identitas, masa mencari bentuk perilaku, masa mencari perhatian, itu menurut saya fase yang harus dipahami," kata Wakil Ketua KPAI Rita Pranawati kepada wartawan, Senin (21/11/2022).

Cara memperlakukan remaja, kata Rita, ada pendekatan tersendiri. Dia menilai remaja yang melakukan kekerasan seperti dalam kasus di Tapsel dan Nganjuk itu harus direspons dengan cara berbeda.

"Treatment kepada remaja itu harus mendengarkan, harus menjadi teman, tidak interogatif, masa-masa itu sering tidak didapatkan dalam rumah dan itu didapatkan lebih sering didapatkan di luar rumah dari teman sebaya. Untuk menunjukkan identitas itu sering kali dengan cara yang salah. Itu menjadi problem," katanya.

Rita menilai kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak bisa terjadi karena contoh yang didapatkan anak di lingkungan sekitar. Dia menilai para remaja sering kali salah mengekspresikan diri karena kurangnya panutan ataupun referensi.

"Selain itu juga ada perilaku-perilaku yang tidak mudah, misalnya mengekspresikan rasa, misalnya sebal, marah atau tidak suka itu referensinya terbatas, banyak cara yang kurang tepat, misalnya nggak suka terus ditendang. Referensi-referensi karakter itu dilihat sesuai dengan contoh yang ada di sekelilingnya," jelasnya.

Rita menilai para remaja memiliki energi yang banyak. Harusnya, para remaja itu menyalurkan semangatnya itu kepada hal yang positif.

"Misalnya berolahraga, itu menjadi hal yang harusnya ada," tuturnya.

Merujuk pada kasus pelajar di Tapsel dan Nganjuk itu, Rita menyebut harus dilakukan pendidikan logika dan rasa kepada remaja. Dia meminta agar latar belakang remaja melakukan aksi kekerasan itu diusut secara mendalam.

"Kalau kita melihat kasus-kasus seperti ini, antara logika, antara rasa tentu harus terdidik. Kita prihatin dengan adanya perilaku-perilaku anak muda yang kondisinya seperti ini. Jadi misalnya melakukan begal, menendang teman, itu harus dikulik, apakah itu menjadi tradisi, ataukah dia menjadi percobaan semata atau dia menjadi hal yang spontan," sebut Rita.

"Kalau dia menjadi tradisi tentu harus ekstra memberikan contoh yang baik, menyalurkan energinya, membangun logikanya bahwa itu tidak boleh. Sekaligus juga memberikan perhatian, kasih sayang, tidak judgement kepada anak itu. Kalau itu spontanitas itu harus diajarkan bagaimana mengendalikan diri agar tidak melakukan kekerasan kepada orang lain," imbuhnya.

Kasus kekerasan yang dilakukan remaja tersebut, kata Rita, memang permasalahan yang kompleks. Faktor yang mempengaruhi, menurutnya, adalah pola asuh hingga situasi di lingkungan sekitar.

"Jadi itu lumayan kompleks, mulai dari situasi pengasuhan anak itu sendiri, kemudian contoh yang ada di sekelilingnya, kemudian bagaimana orang dewasa di sekitarnya membantu untuk anak menemukan identitas diri dan apa proses-proses yang bisa dilalui oleh anak," kata dia.

Simak selengkapnya pada halaman berikut.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT