Kompolnas: Kapolri Benar-benar Total Pastikan Situasi Aman saat G20 Bali

ADVERTISEMENT

Kompolnas: Kapolri Benar-benar Total Pastikan Situasi Aman saat G20 Bali

Audrey Santoso - detikNews
Senin, 21 Nov 2022 15:16 WIB
Komisioner Kompolnas Wahyu Albertus Rudhanto
Foto: Anggota Kompolnas Albertus Wahyurudhanto. (Deny Prastyo Utomo/detikJatim)
Jakarta -

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menilai Polri telah bekerja dengan baik selama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 Bali. Kompolnas menyoroti sosok Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang disebut totalitas mengawasi para personelnya.

"Kapolri benar-benar total, Kapolri full tinggal di sana hanya untuk mengawasi betul agar pengamanan betul-betul dilakukan sesuai dengan apa yang sudah dipersiapkan matang. Karena ini kan menyangkut citra bangsa," kata anggota Kompolnas Albertus Wahyurudhanto kepada wartawan, Senin (21/11/2022).

Albertus mengatakan pihaknya melihat Polri mempersiapkan pengamanan G20 sejak Januari 2022. Kompolnas sendiri melakukan pengawasan langsung terhadap rencana-rencana pengamanan G20 usai Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengarahkan perihal ini di HUT Bhayangkara ke-76 di Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

"Mulai dari Januari mereka sudah mempersiapkan. Kompolnas memang mengikuti terus sesuai dengan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) kami. Kebetulan pada Hari Bhayangkara, Juli itu, pas tanggal 5 yang di Akpol, Pak Presiden kan memberi arahan saat sebagai irup (inspektur upacara), salah satunya beliau minta Polri mengamankan pelaksanaan G20," jelas Albertus.

"Kompolnas, dengan adanya arahan Presiden, langsung terus memantau kinerja dalam hal keamanan sesuai tupoksi kami. Kami mengikuti mulai dari persiapan, lalu ada penambahan atau penebalan anggota pengamanan, komandan operasinya langsung Dankor Brimob, wakilnya Kabaintelkam," sambung Albertus.

Polri Kedepankan Kearifan Lokal

Kompolnas menyebut Polri melakukan pengamanan dengan pendekatan preventif dan preemtif, bukan respressif. Dalam hal ini, Polri melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah serta para pecalang.

"Polri melakukan cara-cara bertindak melalui yang namanya tactical floor game. Jadi simulasi terkait ancaman-ancaman.
Preventif dan preemtif itu dikedepankan dengan melibatkan kearifan lokal, yakni para pecalang. Itu kelebihannya. Jadi tidak mengedepankan respresifnya," terang Albertus.

Terakhir, Albertus memuji konsentrasi Polri pada pengamanan G20 yang tak terganggu meski ada sejumlah kasus atau peristiwa besar yang melibatkan oknum Polri sebelumnya.

"Kejadian-kejadian di Polri, di luar G20, seperti ada kasus FS (Ferdy Sambo), Kanjuruhan, Irjen TM (Teddy Minahasa), tak memecahkan konsentrasi dan fokus Polri untuk G20," pungkas Albertus.

(aud/fjp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT