Misi Jendela Cereblal Palsy: Ajak Masyarakat Bantu Difabel dengan Etika

ADVERTISEMENT

Misi Jendela Cereblal Palsy: Ajak Masyarakat Bantu Difabel dengan Etika

Nada Celesta - detikNews
Minggu, 20 Nov 2022 11:52 WIB
Jakarta -

Aisyah Cahyu Cintya atau Icha adalah penyandang cerebral palsy sejak lahir. Keinginannya untuk mandiri mendorongnya berbuat banyak hal. Bukan hanya untuk anggota komunitasnya yang sama-sama penyandang cerebral palsy, Icha mengajak masyarakat memahami bagaimana etika yang benar saat ingin membantu.

Perempuan berusia 24 tahun itu mengungkapkan bahwa semakin hari, semakin banyak orang yang berempati terhadap para penyandang cerebral palsy. Tidak jarang, Icha pun merasa kegiatan sehari-harinya lebih ringan saat ada orang menolongnya.

"Kadang-kadang orang banyak yang bantu tapi nggak tahu etikanya. Aku sering nemuin masyarakat yang mau bantu tapi main serobot aja. Misalnya kita lagi naik kereta, jalannya lama di gandeng, senang dong, tapi nggak ngomong apa-apa main pegang-tarik aja, kan kita bingung dong," katanya kepada tim Sosok detikcom, Minggu (20/11).

Icha menuturkan, sebaiknya sebelum membantu, seseorang perlu menawarkan maksudnya dahulu. Dengan demikian, pihak yang dibantu tidak kaget atau bahkan salah sangka. Sebab, menurut Icha, belum tentu bantuan yang ditawarkan itu sesuai dengan yang dibutuhkan saat itu.

Icha tidak menolak bantuan spontan yang diberikan seseorang. Namun, sebagai orang yang mengalami hidup dengan cerebral palsy, Icha berharap masyarakat lebih memahami bahwa kenyamanan saat dibantu juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

"Waktu itu ketika di KRL Tanah Abang, Kemayoran, awalnya dia tuh menyapa dulu. 'Halo Namanya siapa? Kamu nggak ada temannya, baru aku mau ke sini, aku udah selesai sih, kamu mau di bantu nggak?' Jadi mereka cerita dikit kan kita tau mereka niatnya baik, baru berasa nyaman kan, nah itu boleh ya dibantu," ungkapnya.

Icha memahami bahwa masih banyak orang yang belum mengerti terkait hal itu. Inilah salah satu alasan Icha saat membentuk komunitas Jendela Cerebral Palsy. Ia berharap, dengan berdirinya komunitas ini, akan terbentuk ekosistem yang memiliki pengetahuan tentang cerebral palsy dan bagaimana menanganinya.

"Misiku untuk mengedukasi masyarakat bahwa kita tuh ada loh. Ini cerebral palsy bukan dikucilkan karena kan kita nggak tau pikiran seseorang kayak apa," tutupnya.

(vys/vys)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT