Presidensi G20 Indonesia Diklaim Terbesar Sepanjang Sejarah

ADVERTISEMENT

Presidensi G20 Indonesia Diklaim Terbesar Sepanjang Sejarah

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Sabtu, 19 Nov 2022 18:01 WIB
Airlangga Hartarto
Foto: Tangkapan Layar Youtube G24News TV
Jakarta -

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) telah menyerahkan secara simbolis palu kepemimpinan Presidensi G20 kepada Perdana Menteri India Narendra Modi dalam sesi penutupan KTT G20 di Bali pada Rabu (16/11) lalu. Ini sekaligus menandakan berakhirnya Presidensi G20 Indonesia untuk kemudian dilanjutkan di tahun depan oleh India.

Penyelenggaraan Presidensi G20 Indonesia dinilai sukses, bahkan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah. Hal ini ditandai dengan keberhasilan untuk mengadopsi dan mengesahkan Deklarasi Pimpinan G20 dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali (G20 Bali Leaders' Declaration).

"Alhamdulillah kita dapat mengadopsi dan mengesahkan G20 Bali Leaders' Declaration. Ini adalah deklarasi pertama yang dapat diwujudkan sejak Februari 2022. Saya juga ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh working groups dan engagement groups atas dedikasi, sumbangan pemikiran, dan kontribusinya bagi Presidensi G20 Indonesia," ucap Jokowi dalam keterangan tertulis, Sabtu (19/11/2022).

Indonesia disebut mampu mendorong solusi untuk berbagai permasalahan selama satu tahun kepemimpinannya. Meski di tengah krisis dan tantangan global, ditambah dengan adanya konflik antara Rusia dan Ukraina.

Selain itu, rangkaian kegiatan Presidensi G20 Indonesia juga mampu memberi dampak positif bagi perekonomian nasional. Salah satunya ditunjukkan dengan laju ekonomi nasional pada dua kuartal terakhir yang tumbuh, serta naiknya PDRB pada sejumlah kota tempat penyelenggaraan event G20.

Diketahui sejak Desember 2021, pemerintah terus mendorong koordinasi dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, serta masyarakat. Hal ini demi menyukseskan penyelenggaraan seluruh rangkaian acara Presidensi G20 Indonesia hingga sesi penutupan.

Sebelum KTT G20 dilangsungkan pada 15-16 November 2022, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bersama Kementerian Luar Negeri juga telah berhasil mengadakan Sherpa Meeting ke-4 di InterContinental Bali Resort, Bali, pada 11-14 November 2022. Pertemuan ini dihadiri seluruh delegasi dan perwakilan organisasi internasional. Serta mampu menghasilkan draft Leaders' Declaration dari sisi Sherpa Track, yang menjadi bagian krusial dalam G20 Bali Leaders' Declaration.

Sherpa Meeting ke-4 pada 11 November 2022 lalu dibuka dengan Sunset Welcome Reception di Sunset Bar Lawn, InterContinental Bali Resort, Bali. Para undangan dijamu dengan konsep 'Nusantara Culinary Journey' yang membawa para delegasi berkeliling Indonesia melalui ragam hidangan yang disajikan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyambut seluruh peserta secara virtual. Ia pun mengapresiasi kerja keras dan keinginan kuat seluruh delegasi Sherpa G20 yang mau bersama-sama mencapai konsensus dalam penyusunan draft Leaders' Declaration.

"Tidak dapat dipungkiri bahwa krisis yang dihadapi dunia saat ini penuh risiko dan rintangan. Jadi para Pemimpin Negara G20 mengandalkan para Sherpa atas kebijaksanaan, solusi, dan inovasi untuk pemulihan ekonomi global dan menghasilkan versi terbaik dari Deklarasi Pemimpin G20 yang menunjukkan kolaborasi global," terang Airlangga.

Menurut Airlangga, hasil dari Presidensi G20 Indonesia memiliki peran penting, karena akan menjadi preseden bagi Presidensi G20 berikutnya yang dipegang oleh India. Apalagi mengingat kondisi anggota Troika G20 berikutnya yang terdiri dari negara berkembang yakni Indonesia, India, dan Brazil.

"Saya bersyukur dan terharu, dengan segala dinamika, negosiasi alot, dan kerja keras Sherpa Track selama satu tahun telah terbayarkan. Semoga solusi yang ditawarkan bermanfaat untuk seluruh rakyat Indonesia dan negara-negara di dunia," tuturnya.

Tepat sehari sebelum KTT G20 dimulai, Airlangga mewakili Presiden Joko Widodo membuka B20 Summit dan membuka secara resmi L20 Summit. Kedatangannya untuk memberikan arahan dan dukungannya terhadap pengembangan dunia bisnis dan ketenagakerjaan global.

Pada kesempatan tersebut ia menekankan pentingnya kerja sama yang baik antara sektor publik dan swasta sebagai kunci kebangkitan ekonomi pascapandemi. Namun dirinya menilai upaya tersebut harus tetap diiringi dengan inklusivitas dan perlindungan bagi semua tenaga kerja.

Dalam Konferensi Pers seusai acara penutupan KTT G20 Rabu (16/11), Airlangga menyampaikan beberapa poin penting terkait transisi energi dan transformasi digital. Dikatakannya, Pemerintah Amerika Serikat telah meluncurkan Partnership for Global Infrastructure and Investment (PGII), dan bersedia untuk menginvestasikan total dana sebesar US$ 600 miliar, dalam bentuk pinjaman dan hibah untuk proyek infrastruktur berkelanjutan bagi negara berkembang.

Hal tersebut tidak lain dalam rangka menyokong keberhasilan transisi energi. Serta sejalan dengan komitmen Indonesia dalam membangun perekonomian masa depan yang rendah karbon, dengan tetap juga melindungi ekosistem darat dan laut.

"Di dalamnya ada yang diinisiasi oleh Jepang yakni Just Energy Transition Partnership (JETP), kita juga sudah diberi komitmen sebesar US$ 20 miliar. Hal ini tentu akan mendorong percepatan dekarbonisasi di Indonesia," ungkap Airlangga.

Lebih lanjut, Menko Airlangga mengungkapkan Indonesia mengapresiasi pencapaian dalam pembahasan isu transformasi digital. Karena sejalan dengan Keketuaan Indonesia di ASEAN pada tahun 2023.

Video 'Melihat Lagi Sederet Momen Viral di Acara KTT G20 Bali':

[Gambas:Video 20detik]



(fhs/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT