Rusia Diprediksi Terkucil Bila Tak Manut G20 untuk Setop Invasi Ukraina

ADVERTISEMENT

Perspektif

Rusia Diprediksi Terkucil Bila Tak Manut G20 untuk Setop Invasi Ukraina

Danu Damarjati - detikNews
Jumat, 18 Nov 2022 11:35 WIB
Russian President Vladimir Putin, center, Russian Defense Minister Sergei Shoigu, second right, and Commander-in-Chief of the Russian Navy Admiral Nikolai Yevmenov review warships before the main naval parade marking Russian Navy Day in the Gulf of Finland, St. Petersburg, Russia, Sunday, July 31, 2022. (Mikhail Klimentyev, Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP)
Foto ilustrasi: Presiden Vladimir Putin (AP/Mikhail Klimentyev)
Jakarta -

Deklarasi Group of Twenty (G20) memuat permintaan agar Rusia menarik pasukannya dari Ukraina. Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga menyeru agar dunia menghentikan perang. Vladimir Putin harus manut deklarasi G20 Bali bila tidak ingin negaranya terkucil.

"Jika Rusia tidak mengindahkan imbauan G20, konsekuensinya Rusia akan dikucilkan, tidak memiliki mitra strategis untuk kepentingan nasionalnya. Itu akan menjadi beban berat bagi pemerintah Vladimir Putin," kata Guru Besar Ilmu Politik Universitas Nasional, Yuddy Chrisnandi, kepada detikcom, Jumat (18/11/2022).

Permintaan agar Rusia menarik pasukannya dari Ukraina termaktub dalam poin ketiga Deklarasi Para Pemimpin G20 di Bali, KTT digelar pada 15-16 November 2022. Poin soal agresi Rusia ke Ukraina ini menjadi poin yang dibahas paling alot. Rusia harus menghormati seruan dunia untuk mewujudkan perdamaian dunia, soalnya perang sudah bikin ekonomi global karut-marut.

"Jika Putin Rasional dan melihat masa depan Rusia yang suram, maka ia harus segera menarik diri dari wilayah Ukraina," kata mantan Duta Besar RI untuk Ukraina ini.

Yuddy Chrisnandi pasca dilantik jadi dubes ukrainaYuddy Chrisnandi pasca dilantik jadi dubes ukraina Foto: Ray Jordan/detikcom

Yuddy menjelaskan, sebenarnya Rusia sudah terlihat teralienasi dalam gelaran G20. Pemimpin Republik Rakyat China (RRC) Xi Jinping yang selama ini punya ikatan kuat dengan Rusia ternyata terlihat bisa berdiplomasi dengan pemimpin Amerika Serikat (AS), Joe Biden. Tak ada negara besar yang mendukung kelanjutan invasi Rusia saat ini, sebab dampak ekonominya ke mana-mana.

Yuddy menyampaikan bahwa Rusia telah diprediksi punya masa depan suram dalam hal ekonomi. Menurut IMF, pertumbuhan ekonomi Rusia tahun depan akan -2,5%. Jika negara-negara G20 menjatuhkan sanksi ke Rusia, Rusia bakal lebih cepat nyungsep ekonominya.

"Kita belum tahu pasti, apa yang akan dilakukan oleh pemimpin Rusia yang otoriter atas hasil kesepakatan G20. Jika mengikuti alur nalar sehat untuk kepentingan masyarakatnya dan perekonomiannya juga masa depan hubungan internasionalnya, tidak ada pilihan lain bagi Rusia untuk menghormati kesepakatan G20, segera menghentikan perang dan kembali merajut perdamaian, serta kerjasama dengan negara-negara mitranya kembali," tutur Yuddy.

Permintaan G20

Berikut adalah bunyi poin nomor 3 deklarasi G20 Bali, sebagaimana diterjemahkan dari situs web resmi Kementerian Luar Negeri RI. Paragraf di bawah ini telah disesuaikan dengan tujuan memudahkan pembaca dalam memahami poin per kalimat:

- Tahun ini, kita juga menyaksikan perang di Ukraina yang berdampak lebih buruk terhadap ekonomi global. Ada diskusi tentang masalah ini.

- Kami menegaskan kembali posisi nasional kami sebagaimana diungkapkan dalam forum lain, termasuk Dewan Keamanan PBB dan Majelis Umum PBB, yang dalam Resolusi No. ES-11/1 tanggal 2 Maret 2022, sebagaimana diadopsi oleh suara mayoritas (141 suara setuju, 5 menentang , 35 abstain, 12 absen) sangat menyesalkan agresi Federasi Rusia terhadap Ukraina dan menuntut penarikan penuh dan tanpa syarat dari wilayah Ukraina.

- Sebagian besar anggota mengecam keras perang di Ukraina dan menekankan hal itu menyebabkan penderitaan manusia yang luar biasa dan memperburuk kerentanan yang ada dalam ekonomi global - menghambat pertumbuhan, meningkatkan inflasi, mengganggu rantai pasokan, meningkatkan kerawanan energi dan pangan, dan meningkatkan risiko stabilitas keuangan.

- Ada pandangan lain dan penilaian berbeda terhadap situasi dan sanksi. Menyadari bahwa G20 bukanlah forum untuk menyelesaikan masalah keamanan, kami mengakui bahwa masalah keamanan dapat memiliki konsekuensi yang signifikan bagi ekonomi global.

Telaah Prof Hikmahanto

Guru besar hukum internasional serta Rektor Universitas Jenderal Ahmad Yani, Profesor Hikmahanto Juwana, tidak melihat ada permintaan G20 untuk Rusia agar menarik pasukan dari Ukraina. Menurutnya, poin ketiga itu cuma memuat kutipan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saja.

"Tidak ada kecaman ke Rusia dan Permintan untuk keluar dari Ukraina dalam Leaders Declaration KTT G20," kata Hikmahanto dalam keterangan tertulisnya.

Menurut Hikmahanto, Leaders' Declaration G20 Bali itu hanya mengutip Resolusi Majelis Umum PBB 2 Maret 2022. Maka, penarikan mundur pasukan Rusia bukan termasuk dalam Leaders' Declaration tersebut.

"Meski demikian negara anggota memahami perang yang terjadi bisa berkonsekuensi yang signifikan bagi ekonomi global," kata dia.

Lihat Video: Detik-detik Rudal Rusia Hantam Dnipro Ukraina

[Gambas:Video 20detik]




(dnu/tor)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT