Akankah Rusia Manut Deklarasi G20 untuk Tarik Pasukan dari Ukraina?

ADVERTISEMENT

Perspektif

Akankah Rusia Manut Deklarasi G20 untuk Tarik Pasukan dari Ukraina?

Danu Damarjati - detikNews
Kamis, 17 Nov 2022 15:22 WIB
Russian President Vladimir Putin listens to Deputy Commander of the Airborne Troops Anatoly Kontsevoy at a training centre of the Western Military District for mobilised reservists, in Ryazan Region, Russia October 20, 2022. Russian Defence Ministry/Handout via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. NO RESALES. NO ARCHIVES. MANDATORY CREDIT.
Ilustrasi. Presiden Rusia Vladimir Putin dan tentara Rusia. (Russian Defense Ministry Press Service/Reuters)
Jakarta -

KTT G20 Bali telah menghasilkan deklarasi, salah satu poinnya adalah meminta Rusia menarik pasukannya dari Ukraina. Apakah Rusia mau menuruti permintaan para pemimpin negara G20?

Permintaan agar Rusia menarik pasukannya dari Ukraina termaktub dalam poin ketiga Deklarasi Para Pemimpin G20 di Bali, KTT digelar pada 15-16 November 2022. Poin soal agresi Rusia ke Ukraina ini menjadi poin yang dibahas paling alot.

Berikut adalah bunyi poin nomor 3 deklarasi tersebut, sebagaimana diterjemahkan dari situs web resmi Kementerian Luar Negeri RI:

Tahun ini, kita juga menyaksikan perang di Ukraina yang berdampak lebih buruk terhadap ekonomi global. Ada diskusi tentang masalah ini. Kami menegaskan kembali posisi nasional kami sebagaimana diungkapkan dalam forum lain, termasuk Dewan Keamanan PBB dan Majelis Umum PBB, yang dalam Resolusi No. ES-11/1 tanggal 2 Maret 2022, sebagaimana diadopsi oleh suara mayoritas (141 suara setuju, 5 menentang , 35 abstain, 12 absen) sangat menyesalkan agresi Federasi Rusia terhadap Ukraina dan menuntut penarikan penuh dan tanpa syarat dari wilayah Ukraina. Sebagian besar anggota mengecam keras perang di Ukraina dan menekankan hal itu menyebabkan penderitaan manusia yang luar biasa dan memperburuk kerentanan yang ada dalam ekonomi global - menghambat pertumbuhan, meningkatkan inflasi, mengganggu rantai pasokan, meningkatkan kerawanan energi dan pangan, dan meningkatkan risiko stabilitas keuangan. Ada pandangan lain dan penilaian berbeda terhadap situasi dan sanksi. Menyadari bahwa G20 bukanlah forum untuk menyelesaikan masalah keamanan, kami mengakui bahwa masalah keamanan dapat memiliki konsekuensi yang signifikan bagi ekonomi global.

Prediksi

Pakar hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Teuku Rezasyah, memprediksi Rusia tidak akan mau memenuhi deklarasi KTT G20 Bali untuk menarik pasukannya dari Ukraina. Rusia baru mau menarik pasukan dari Ukraina apabila keinginan Rusia terpenuhi.

"Rusia baru dapat diajak menarik diri dari Ukraina jika dipenuhinya persyaratan berikut ini. Pertama, Ukraina yang menarik diri dari rencana keanggotaannya dalam NATO," kata Rezasyah kepada detikcom, Kamis (17/11/2022).

Sebagaimana diketahui, sebelum Rusia menginvasi Ukraina pada tahun ini, Ukraina berkeinginan bergabung ke Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) alias sekutu Amerika Serikat (AS). Rusia, yang berada tepat di sebelah timur Ukraina, tidak mau berada begitu dekat dengan 'antek AS', maka Rusia menginvasi Ukraina sebelum Ukraina benar-benar bergabung dengan kelompok AS.

"Syarat kedua, NATO menarik mundur 150 ribu personelnya dari Polandia," kata Rezasyah.

Teuku Rezasyah, ahli hubungan internasional dari Unpad. (Dok Unpad)Teuku Rezasyah, ahli hubungan internasional dari Unpad. (Dok Unpad)

Rezasyah memprediksi Rusia mau menarik pasukan dari Ukraina bila NATO menarik diri dari negara sebelah barat Ukraina itu. Negara Eropa bagian tengah itu baru saja kena rudal nyasar yang menewaskan dua warga sipil. Syarat ketiga, NATO dan Ukraina mengakui kepemimpinan Rusia di seluruh wilayah bekas Uni Soviet.

Terlepas dari syarat itu, Rezasyah memandang deklarasi G20 Bali kali ini lebih tegas ketimbang resolusi KTT G20 sebelumnya. Dalam situasi seperti itu, ternyata Indonesia tidak mengekor pada kekuatan-kekuatan besar dunia.

"Rusia sebenarnya harus berterima kasih pada RI, yang tidak terjebak tekanan negara-negara Barat, untuk menjadikan KTT G20 sebagai forum ekonomi dan pembangunan, yang dapat juga diperluas cakupannya sehingga menjangkau pertahanan dan keamanan," ujar Rezasyah.

Pembacaan Lain dari Prof Hikmahanto

Guru besar hukum internasional serta Rektor Universitas Jenderal Ahmad Yani, Profesor Hikmahanto Juwana, punya pembacaan lain terhadap poin ketiga deklarasi G20 Bali itu. Poin ketiga memuat semacam permintaan ke Rusia agar menarik pasukan dari Ukraina. Namun, menurut dia, sebenarnya permintaan itu tidak ada.

"Kalau dibaca, poin nomor 3 itu tidak ada kewajiban Rusia untuk menarik pasukan," kata Hikmahanto saat dihubungi terpisah.

Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana dalam diskusi 'Warga Tanpa Warga Negara' di kantor Para Syndicate, Jakarta, Jumat (19/8/2016)Guru besar hukum internasional UI Hikmahanto Juwana dalam diskusi 'Warga Tanpa Warga Negara' di kantor Para Syndicate, Jakarta, Jumat (19/8/2016). (Ari Saputra/detikcom)

Menurut pemahaman Hikmahanto, poin soal penarikan pasukan dari Ukraina adalah semacam kutipan yang dituangkan dalam deklarasi. Kutipan itu berasal dari Resolusi PBB nomor ES-11/1 tanggal 2 Maret 2022. Isi Resolusi itu adalah menyesalkan agresi Rusia terhadap Ukraina dan menuntut penarikan pasukan oleh Rusia dari Ukraina.

"Pengutukan dan permintaan Rusia mundur itu atas dasar resolusi PBB yang dirujuk, jadi bukan atas dasar Leaders' Declaration," kata Hikmahanto.

Menurut Anda pembaca yang budiman, apakah Rusia mau manut deklarasi G20 Bali dengan menarik pasukannya dari Ukraina? Atau Anda punya pembacaan lain?

Lihat Video: Pasokan Air di Mykolaiv Terputus Akibat Dihantam Rudal Rusia

[Gambas:Video 20detik]



(dnu/imk)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT