SP Jamsostek: Desakan Mundur Dirut Bukan Agenda Politis

SP Jamsostek: Desakan Mundur Dirut Bukan Agenda Politis

- detikNews
Sabtu, 22 Jul 2006 06:26 WIB
Jakarta - Gonjang-ganjing terjadi di tubuh Jamsostek. Serikat Pekerja Jamsostek (SPJ) meminta mundur Dirut, Iwan P Pontjowinoto. Namun, ditengarai tuntutan ini berbau politis. Menanggapi tudingan politis tersebut, Ketua Umum SPJ Abdul Latief Algaff mengatakan, bahwa tuntutan SPJ murni untuk mencopot jabatan Iwan, bukan sebagai agenda politik."SPJ tidak membutuhkan analisis dan spekulasi bernuansa politis, karena tuntutan ini semata untuk menjaga citra, eksistensi, posisi strategi PT Jamsostek (Persero) di kalangan stakeholder, khususnya tenaga kerja, yang telah menitipkan dana yang jumlahnya triliunan rupiah (trust fund)," kata Algaff dalam rilisnya kepada detikcom Sabtu (21/7/2006).SPJ juga menyayangkan sikap dari Menneg BUMN Sugiharto dan beberapa anggota Komisi IX DPR RI yang sempat terjebak dengan turut mengomentari surat-surat palsu yang seolah-olah berasal dari SPJ, padahal merupakan produk ilegal. Surat dibuat pihak yang tidak bertanggungjawab itu ingin memberi kesan bahwa gerakan SP Jamsostek bermotif perebutan kedudukan.Algaff menegaskan, komitmen dan agenda tunggal organisasi karyawan PT Jamsostek (Persero) ini adalah mengajukan mosi tidak percaya dan tuntutan pencopotan Dirut PT Jamsostek, Iwan P. Pontjowinoto. "Agenda kami Cuma satu itu saja, tidak ada yang lain apalagi soal formasi jabatan. Soal siapa yang menggantikan sepenuhnya menjadi kewenangan Kuasa Pemegang Saham dalam hal ini Kementerian BUMN," tandasnya.Algaff meyakini, bahwa surat tersebut dibuat oleh para avonturir yang bertujuan seakan mendukung posisi Iwan Pontjowinoto agar mendapatkan manfaat untuk kepentingan pribadi. "Kami tidak terpengaruh dengan surat tersebut, karena tuntutan karyawan murni sepenuhnya meminta pencopotan Iwan Pontjowinoto dari kursi Dirut PT Jamsostek (Persero)," tegas Algaff, yang juga alumni Pascasarjana UI ini.Ia kembali menegaskan, bahwa agenda tuntutan pencopotan Iwan Pontjowinoto merupakan harga mati yang tidak dapat ditawar. Karyawan Jamsostek sudah cukup sabar memberi kesempatan kepada Iwan untuk menjadi pemimpin yang baik dan amanah. Namun kesempatan itu justru disalahgunakan untuk mencaci maki, menghina, dan menghujat karyawan."Sikap yang diperlihatkan Iwan Pontjowinoto itu mengindikasikan rendahnya rasa memiliki terhadap institusi Jamsostek, padahal dia mencari nafkah dan mendapatkan manfaat ekonomis dan non-ekonomis dari Jamsostek," ujar Kepala Urusan Publikasi dan Promosi Biro Humas PT Jamsostek (Persero) ini. (ahm/)


Berita Terkait