Ratusan Mahasiswa Terjerat Pinjol, Politisi PAN Minta Polisi Usut Tuntas

ADVERTISEMENT

Ratusan Mahasiswa Terjerat Pinjol, Politisi PAN Minta Polisi Usut Tuntas

Eva Safitri - detikNews
Kamis, 17 Nov 2022 02:10 WIB
Juru Bicara Muda PAN Dimas Prakoso Akbar
Dimas Prakoso Akbar ( Foto: dok. Istimewa)
Jakarta -

Ratusan mahasiswa di Bogor terjerat pinjaman online (pinjol). Juru Bicara Muda PAN Dimas Prakoso Akbar menilai kasus itu bukan semata terkait pinjol biasa tapi menurutnya ada kaitan dengan investasi bodong.

"Ada dua hal yang harus menjadi perhatian penegak hukum, pihak kampus, dan regulator industri keuangan. Kejadian ini bukan cuma persoalan pinjaman online tapi juga investasi bodong. Investasi bodong itulah yang menjadi pemicu para mahasiswa mengajukan pinjaman online," kata Dimas dalam keterangan tertulisnya, Kamis (17/11/2022).

"Terkait pinjaman online. Jika dilihat dari praktek lembaga pinjaman online yang legal, maka para pemohon harus berstatus pegawai dengan penghasilan tetap atau memiliki usaha sesuai kriteria tertentu untuk mendapat fasilitas pinjaman. Kenapa mahasiswa yang notabene belum memiliki penghasilan tetap kemudian bisa menjadi nasabah pinjaman online ? Maka legalitas hingga mata rantai lembaga peminjam harus diusut tuntas dan dihentikan," lanjutnya.

Dimas menilai momen ini harus menjadi perhatian bagi stakeholder terkait untuk meningkatkan literasi keuangan di level mahasiswa. Dia menilai literasi keuangan terutama terkait investasi masih minim di kalangan mahasiswa.

"Kaidah investasi yang berlaku umum tidak boleh mengiming-iming keuntungan sekian persen dalam waktu singkat tanpa menjelaskan risiko yang terkandung di dalam investasi tersebut. Maka kejadian yang menimpa ratusan mahasiswa di IPB menjadi pekerjaan rumah bagi lembaga pendidikan dan regulator industri keuangan untuk terus meningkatkan literasi keuangan di level mahasiswa," ujarnya.

Lebih lanjut, Dimas mengatakan perlu pendampingan hukum terhadap para mahasiswa yang terjerat pinjol. Hal itu guna mengurangi kejadian tidak mengenakkan karena dikhawatirkan akan berurusan dengan debt collector.

"Pihak kampus diharapkan terus memberi pendampingan terutama di sisi hukum hingga kasus ini selesai. Adanya pendampingan dapat memberi kekuatan moral bagi para mahasiswa untuk melaporkan kasus ini. Tanpa pendampingan dikhawatirkan para mahasiswa mengalami ketakutan mengingat terjerat pinjaman online berarti berurusan dengan 'debt collector'," ucapnya.

Dimas juga meminta penegak hukum untuk mengusut tuntas kejadian ini. Dia berharap penegak hukum bisa memutus rantai pinjol ilegal.

"Bagi penegak hukum dan regulator industri keuangan, adanya kasus ini harus menjadi momen untuk mengungkap dan memutus mata rantai pinjaman online ilegal. Target market lembaga pinjaman online tadinya para pekerja dan ibu rumah tangga, kok sekarang menyasar mahasiswa? Maka inilah golden time untuk segera bertindak," ujarnya.

Sebelumnya, mahasiswa korban penipuan investasi fiktif hingga terjerat pinjaman online (pinjol) di Bogor mencapai 333 orang. Saat ini para korban masih dalam pemeriksaan polisi.

"Per hari ini ada 333 orang per hari ini. Kemungkinan bertambah ya, karena banyak yang dari korban ini ketakutan untuk melapor dan juga takut untuk orang tuanya tau. Karena kebanyakan ini mahasiswa ya statusnya, kebetulan anak saya pun mahasiswa," kata orangtua salah satu mahasiswa sekaligus koordinator korban investasi fiktif Dewi Ariani ditemui di Polresta Bogor Kota, Selasa (16/11/2022).

(eva/eva)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT