BMKG Prediksi Kabut Lebih Sering Muncul di Jabodetabek, Ini Penyebabnya

ADVERTISEMENT

BMKG Prediksi Kabut Lebih Sering Muncul di Jabodetabek, Ini Penyebabnya

Jabbar Ramdhani - detikNews
Senin, 14 Nov 2022 21:14 WIB
Fenomena kabut menyelimuti Jakarta pagi tadi. Kemunculan kabut menarik perhatian warga yang menyadari fenomena tersebut. (dok pribadi/Sofyan Arif)
Fenomena kabut menyelimuti Jakarta pagi tadi. Kemunculan kabut menarik perhatian warga yang menyadari fenomena tersebut. (dok pribadi/Sofyan Arif)
Jakarta -

Kabut sempat muncul di langit Jakarta dan daerah sekitarnya pagi tadi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan fenomena itu bisa lebih sering terjadi.

"Selama musim hujan, potensi kabut di pagi hari intensitasnya akan lebih banyak di berbagai wilayah dataran rendah, khususnya perkotaan," kata prakirawan BMKG dalam keterangannya, Senin (14/11/2022).

Dia menjelaskan secara alamiah kabut terjadi di malam hari dan pagi hari. Namun, kenapa kabut berpotensi lebih sering terjadi?

"Fenomena kabut ini terjadi karena suhu permukaan bumi di Jabodetabek dan sekitarnya pada malam sebelumnya dalam keadaan lebih dingin ketimbang suhu udara di atasnya terlihat dari konsisten antara 19-24 derajat Celsius," jelasnya.

Dia mengatakan, pada pagi hari, suhu udara cenderung masih relatif tidak jauh berbeda akibat tutupan awan yang masih cenderung tebal. Pada pagi hari, lanjutnya, cenderung ada inversi.

Kondisi itu terjadi saat suhu udara di atas lebih hangat dibanding ke bawahnya akibatnya udara dingin yang mengandung uap air lembap masih terperangkat di lapisan rendah.

"Atas kondisi itu, uap air mengalami kondensasi menjadi titik-titik air yang lebih kecil, kemudian melayang di permukaan menjadi kabut," tuturnya.

Dia mengatakan kabut kemudian akan menghilang secara perlahan-lahan seiring munculnya sinar matahari pada pagi menjelang siang hari.

Namun, fenomena munculnya kabut ini akan mengurangi jarak pandang dari para pengendara. BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.

"Oleh karena itu, keberadaan kabut berbahaya jika jarak pandang rendah di bawah 1 km, khususnya bagi pengendara moda transportasi (darat, laut, dan udara), karena keterbatasan jarak pandang menyebabkan pengemudi sulit memprediksi jika ada benda atau kendaraan lain di depannya. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati," bebernya.

Simak berita selengkapnya di halaman selanjutnya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT