Ketahanan Medis Rentan, PDUI Didorong Tingkatkan Kompetensi Anggotanya

ADVERTISEMENT

Ketahanan Medis Rentan, PDUI Didorong Tingkatkan Kompetensi Anggotanya

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Sabtu, 12 Nov 2022 16:51 WIB
Bambang Soesatyo
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mendorong peningkatan kompetensi dokter. Sebab menurutnya saat ini dunia kesehatan Indonesia sedang mengalami perubahan dan dinamika yang cepat akibat pandemi COVID-19.

Bamsoet mengatakan adanya pandemi COVID-19 menyadarkan betapa rentannya ketahanan medis Indonesia dalam menghadapi tantangan yang tiba-tiba datang. Mengingat cakupan pelayanan kesehatan di Indonesia masih belum mencapai target yang diharapkan.

Hal ini terlihat dari angka kematian ibu yang mengalami tren kenaikan sejak tahun 2018. Dia menyebut di tahun 2021, jumlah angka kematian ibu mencapai 7.389 orang, yang mayoritas disebabkan oleh COVID-19. Jumlah tersebut dinilainya naik lebih dari 59 persen, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 4.627 orang.

"Angka ini juga mengindikasikan bahwa target pemerintah untuk menurunkan angka kematian Ibu ke 217 per seratus ribu kelahiran hidup, belum dapat terealisasi," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Sabtu (12/11/2022).

Hal tersebut ia sampaikan saat membuka Kongres Nasional dan Pertemuan Ilmiah Tahunan yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) di Jakarta.

Ketua DPR RI ke-20 ini memaparkan program prioritas pemerintah untuk menurunkan prevalensi stunting dari populasi yang memiliki faktor risiko atau penyakit yang disebabkan kekurangan gizi kronis, juga belum mencapai target yang diharapkan. Hasil studi status gizi Indonesia (SSGI) pada tahun 2021 menunjukkan angka prevalensi stunting mencapai 24,4 persen. Lebih besar dari target pemerintah sebesar 21,1 persen, dan akan jauh lebih besar lagi jika dibandingkan dengan target tahun 2024 sebesar 14 persen.

"Persoalan lain juga dapat kita rujuk pada data penyakit menular, misalnya penyakit Tuberculosis (TBC). Meskipun kita sudah berupaya keras memberantasnya dengan segala upaya, namun belum membuahkan hasil yang memuaskan. Bahkan saat ini Indonesia menjadi negara dengan kasus TBC tertinggi ke-3 di dunia setelah India dan China. Jika kita kalkulasi, dalam setiap jam ada sekitar 11 orang pasien TBC yang meregang nyawa," kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menekankan pentingnya langkah progresif dan inovatif di bidang layanan kesehatan masyarakat yang meliputi beberapa aspek. Antara lain, transformasi kesehatan pada berbagai tingkatan, baik transformasi pelayanan kesehatan di tingkat primer maupun di layanan rujukan di rumah sakit.

Dikatakan Bamsoet, peranan dokter umum juga penting dalam rangka mendorong penguatan pelayanan kesehatan di tingkat primer. Sebab dengan jumlah 163 ribu dokter, maka dokter menjadi sumber daya potensial untuk melakukan transformasi pada layanan tingkat primer.

"Dalam kerangka membangun sumber daya medis yang mumpuni, salah satu variabel penting yang harus selalu kita jaga dan perjuangkan bersama, adalah peningkatan kompetensi dokter. Saya dan kita semua tentunya sangat mengharapkan bahwa PDUI (Perhimpunan Dokter Umum Indonesia), sebagai wadah organisasi tempat bernaungnya para dokter umum, dapat terus berkontribusi untuk menjaga dan meningkatkan kompetensi segenap anggotanya, sehingga dapat membantu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia," jelas Bamsoet.

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia ini menjelaskan untuk menghadapi era disrupsi di tengah lompatan kemajuan teknologi informasi, para dokter umum harus bisa beradaptasi terhadap transformasi digital. Di sisi lain, dokter juga harus memiliki kompetensi yang mumpuni agar bisa memberikan layanan telekonsultasi dan telemedicine kepada masyarakat. Sehingga memberikan kemudahan akses kesehatan bagi setiap orang.

"Kemajuan teknologi adalah sebuah keniscayaan yang mustahil untuk kita lawan. Karena itu, satu satunya cara terbaik untuk menghadapinya, hanyalah melalui adaptasi dan inovasi, sehingga kita dapat terus melangkah maju, dan tidak tergilas oleh laju peradaban zaman," pungkas Bamsoet.

(fhs/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT