Alat Seismograf Banyak yang Sudah Tua dan Rusak
Kamis, 20 Jul 2006 17:15 WIB
Jakarta - Menneg Ristek Kusmayanto Kadiman mengakui banyak alat pendeteksi gempa banyak yang rusak dan umurnya sudah tua. Dia meminta agar alat pendeteksi gempa ditambah."Alat-alat seperti seismograf yang kita miliki sudah banyak yang tua dan rusak. Jadi memang perlu ditambah," kata Kusmayanto saat raker dengan Komisi VII DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (20/7/2006).Dia mengharapkan penambahan alat seperti seismograf yang saat ini ada 58 unit tersebar di lima wilayah nantinya ditambahkan menjadi 180 unit yang tersebar di 10 kantor regional.Akselerograf juga perlu ditambah dari yang ada saat ini yang hanya tersedia 9 unit, nantinya diharapkan mencapai 500 unit. Untuk mempersiapkan struktur dan infrastruktur itu, dia akan memasukkan alokasi dananya dalam RAPBN 2007. "Kalau dimasukkan dalam APBN-P saya tidak mau. Kalau untuk APBN tahunan ya ayo, karena ini kan untuk jangka panjang," jelas Kusmayanto.Pemasangan alat pendeteksi gempa dan tsunami itu ke depan akan diprioritaskan di sepanjang selatan Pulau Jawa dan Bali, karena Bali merupakan sumber devisa di samping infrastrukturnya sudah tersedia."Di Bali itu kan sudah ada semacam radar. Jadi tinggal bagaimana menyesuaikan dengan early warning system itu" ujar dia.Kusmayanto juga mengatakan, ke depan nanti yang diperlukan dalam early warning system gempa dan tsunami selain alat pendeteksi di darat dan air kemudian infrastruktur, bagaimana data yang diperolah sampai dengan baik ke BMG.Selanjutnya ada pusat pengolahan data. Setelah data diperoleh adalah kecepatan pemrosesan data untuk memprediksi adanya tsunami karena memang tsunami tidak bisa dideteksi secara mutlak."Yang terbaik saat ini adalah BMG Jepang, yakni bisa melihat potensi tsunami 13 menit setelah terjadinya gempa," ujar dia.
(san/)











































