Presiden Korsel Bertemu Mega dan Puan, Antusias Dengar Kisah Bung Karno

ADVERTISEMENT

Laporan dari Korea Selatan

Presiden Korsel Bertemu Mega dan Puan, Antusias Dengar Kisah Bung Karno

Ahmad Toriq - detikNews
Kamis, 10 Nov 2022 16:04 WIB
Megawati dan Puan Maharani bertemu Presiden Korsel. (dok. Istimewa).
Megawati dan Puan Maharani bertemu Presiden Korsel (Foto: dok. Istimewa)
Seoul -

Ketua DPR RI Puan Maharani dan Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri bertemu dengan Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol. Presiden Korsel diceritakan antusias mendengar kisah Sukarno.

Puan dan Megawati diterima Presiden Yoon Suk-yeol di Istana Kepresidenan Korea Selatan atau Blue House di Seoul, Kamis (10/11/2022). Megawati merupakan salah satu tokoh yang diundang saat pelantikan Yoon Suk-yeol sebagai Presiden Korea Selatan bulan Mei lalu.

"Annyeonghaseyo, terima kasih atas sambutan hangat Bapak Presiden Yoon Suk-yeol, yang telah menerima kunjungan saya di Seoul," kata Puan dalam pertemuan.

Puan menyampaikan belasungkawanya atas tragedi Itaewon yang menewaskan 156 orang. Sebelum bertemu dengan Presiden Yoon, Puan mengunjungi lokasi tragedi Itaewon untuk memberi penghormatan kepada korban dengan memanjatkan doa dan meletakkan bunga.

"Saya berharap pertemuan ini dapat menjadi momentum yang tepat bagi kita untuk memperkuat kerja sama Indonesia dengan Republik Korea," ujarnya.

Menurut Puan, hubungan diplomatik Indonesia dan Korea Selatan yang sudah terjalin sejak 1973 harus makin ditingkatkan. Hubungan bilateral kedua negara telah memasuki babak baru sejak November 2017, melalui Joint Vision Statement for Co-Prosperity and Peace, di mana kedua pemimpin negara sepakat meningkatkan status kemitraan menjadi special strategic partnership.

"Kerja sama antarparlemen Indonesia dan Korea Selatan juga perlu terus dikembangkan agar tidak tertinggal dari yang dilakukan pemerintah dan pihak swasta. Hubungan kedua negara akan semakin solid jika terdapat hubungan erat antarparlemen kedua negara," ujar Puan.

Lebih lanjut, Puan mendorong Indonesia dan Korea Selatan terus memperkuat kerja sama dalam menghadapi tantangan global, khususnya dalam isu perdamaian, tingginya inflasi, tingginya harga energi dan pangan, perubahan iklim, mengatasi pandemi, dan lain-lain.

"Saya juga mengapresiasi pada awal COVID-19 pemerintah dan rakyat Korea Selatan telah membantu Indonesia berupa obat-obatan, hingga peralatan medis," kata Puan.

Puan mendorong pengembangan people-to-people contact untuk mendukung kerja sama kedua negara yang lebih kokoh. "Saya berharap pemerintah Korea dapat memberikan kemudahan visa masuk bagi WNI yang akan berkunjung ke Korea. Tingginya intensitas hubungan kedua negara menyebabkan banyaknya kunjungan WNI ke Korea," ujar Puan.

Pertemuan tersebut juga membahas soal hubungan ekonomi, pertahanan, hingga pendidikan antara Indonesia dan Korea Selatan. Puan mengapresiasi peningkatan tren perdagangan kedua negara di tahun 2021 yang mencapai USD 18 miliar di mana investasi Korea di Indonesia juga tumbuh dua kali lipat.

Puan berharap nilai perdagangan dan investasi Korea Selatan di Indonesia pada 2022 akan tumbuh lebih besar yang ditunjang oleh tingginya angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2022 lalu sebesar 5,72%. Untuk itu, Puan mendorong implementasi konkret dari IK-CEPA agar dapat menciptakan kesejahteraan rakyat kedua negara.

Investasi Korea dalam pengembangan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang akan menyerap banyak tenaga kerja turut dibahas dalam pertemuan. Puan juga menyinggung investasi strategis industri mobil listrik dan baterai.

"Saya harapkan kerja sama bidang mobil listrik akan berkontribusi untuk penanganan perubahan iklim. Ke depan diharapkan dapat dilakukan kerja sama riset dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik tersebut," ujar Puan.

Mantan Menko PMK ini menambahkan Indonesia dan Korea Selatan perlu juga menjajaki lebih banyak kerja sama pendidikan. Apalagi, menurut Puan, jumlah pelajar Indonesia di Korea Selatan yang baru hanya 2.000 orang masih kecil dibanding pelajar negara Asia lain di negeri ginseng tersebut.

Puan juga meminta Presiden Yoon memberikan perhatian lebih terhadap sekitar 39 ribu warga Indonesia yang berada di Korea Selatan. Puan mengharapkan Indonesia dan Korea dapat terus menjalin kerja sama yang berguna bagi kemakmuran rakyat kedua negara.

"Momentum tahun 2023 sebagai peringatan 50 tahun hubungan Korea-Indonesia perlu untuk dimaknai dengan kerja sama konkret yang bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat kedua negara. Terima kasih, kamsahamnida," kata Puan.

Hal senada disampaikan oleh Presiden Yoon Suk-yeol. Ia berharap hubungan kerja sama Indonesia dan Korea Selatan yang sudah terjalin sejak 50 tahun lalu harus terus ditingkatkan.

Pertemuan Puan dan Megawati bersama Presiden Yoon yang dijadwalkan berlangsung 30 menit malah menjadi lebih dari satu jam. Ini karena obrolan hangat antara Puan dan Korea Selatan tercipta selama pertemuan.

"Pembicaraan bukan hanya tentang masalah kenegaraan saja tapi juga soal keluarga masing-masing. Berbagai persoalan internasional pun ikut dibahas dalam pertemuan Ibu Puan, Ibu Megawati, dan Presiden Yoon," ujar Dubes RI untuk Korea Selatan Gandi Sulistiyanto, yang ikut hadir dalam pertemuan.

Menurut Gandi, Presiden Yoon sangat antusias mendengarkan kisah-kisah tentang Bung Karno, khususnya mengenai hubungan presiden pertama RI itu dengan bangsa Korea. Bung Karno memang menjadi tokoh yang cukup dihormati, baik oleh Korea Selatan maupun Korea Utara. Hubungan erat Bung Karno dengan Korea berlanjut sampai ke Megawati dan Puan.

"Kepada Presiden Yoon, Ibu Mega mengutip pesan Bung Karno yang mengatakan bangsa Asia sebenarnya lebih kaya dari bangsa lain dari sisi sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM), tapi harus bersatu," kata Gandi.

(tor/gbr)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT