Dikunjungi Siswa SMA, Ketua MPR Bicara Bonus Demografi

ADVERTISEMENT

Dikunjungi Siswa SMA, Ketua MPR Bicara Bonus Demografi

Danica Adhitiawarman - detikNews
Rabu, 09 Nov 2022 16:55 WIB
MPR RI
Foto: dok. MPR RI
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet), mendapat kunjungan siswa Kelas XII SMA Pesantren Modern Internasional Dea Malela, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat yang dibina oleh Prof. Din Syamsuddin. Ia bangga dengan konsep Pendidikan Pondok Modern Internasional Dea Malela yang memprioritaskan tiga nilai keutamaan yang bersandar pada pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan.

Beberapa nilai keutamaan dipegang oleh pesantren ini adalah keunggulan komparatif, keunggulan kompetitif, dan keunggulan dinamik. Keunggulan komparatif di antaranya beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, berkepribadian luhur, dan religius. Kemudian, keunggulan kompetitif adalah menjadi insan yang berilmu, kritis, kreatif, inovatif, sehat, mandiri, dan percaya diri. Selanjutnya, keunggulan dinamik di antaranya adalah toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab.

"Konsep tersebut selaras dengan amanat pasal 31 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menegaskan bahwa dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, sistem pendidikan nasional diselenggarakan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta akhlak mulia. Amanat Konstitusi ini dimaknai, bahwa tujuan penyelenggaraan pendidikan tidak hanya sekadar untuk melahirkan sumber daya manusia yang cerdas dan terampil saja, tetapi juga berkarakter dan berwawasan kebangsaan. Generasi muda yang berwawasan kebangsaan adalah generasi yang berhati Indonesia dan berjiwa Pancasila," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Rabu (9/11/22).

Bamsoet menjelaskan saat ini bangsa Indonesia sedang berada di fase bonus demografi. Hal ini berarti, komposisi penduduk didominasi oleh kelompok usia produktif. Mayoritas (70 persen) dari kelompok usia produktif diperkirakan sebagai generasi muda yang berusia 15 sampai 44 tahun.

"Generasi muda memiliki peran penting dan strategis, baik sebagai agen perubahan, sebagai kontrol sosial, sebagai kekuatan moral, sebagai penjaga dan pelestari nilai kebangsaan, maupun sebagai generasi penerus bangsa yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan nasional. Singkatnya, generasi muda adalah faktor kunci yang akan menentukan seperti apa wajah Indonesia di masa depan," ujar dia.

"Satu hal yang perlu diingat, masa depan tidak hadir secara tiba-tiba. Masa depan dibentuk, dibangun, dan ditentukan oleh apa yang kita lakukan pada saat ini. Masa depan bangsa dan negara dicapai melalui tahapan pembangunan dengan melewati berbagai tantangan kebangsaan dan berproses melalui dinamika zaman," imbuhnya.

Pesatnya laju modernisasi zaman menghasilkan kemajuan di berbagai bidang kehidupan. Beberapa di antaranya adalah di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Menurut catatan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, tingkat penetrasi internet Indonesia hingga bulan Juni 2022 mencapai angka 44,02 atau lebih dari 210 juta user. Selain itu, pengguna internet aktif didominasi oleh generasi muda.

"Meskipun kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, serta pemanfaatan internet pada semua lini kehidupan telah menawarkan banyak kemudahan dan efisiensi, namun di sisi lain kita juga harus menyadari bahwa jika tidak bijaksana dalam menyikapi kemajuan teknologi tersebut, selain dapat menghadirkan sebuah kemubaziran, juga berpotensi menimbulkan dampak negatif yang merugikan," terang Bamsoet.

Ia menambahkan kemubaziran tersebut terlihat dari besarnya angka penetrasi internet oleh generasi muda yang tidak sebanding dengan pemanfaatan yang optimal. Generasi muda cenderung menggunakan internet untuk media sosial dan jejaring sosial dibandingkan kegiatan yang produktif. Selain kemubaziran, kemajuan teknologi dapat menimbulkan dampak buruk seperti lahirnya generasi yang bersikap individualis dan 'anti sosial'.

"Kita memang tidak boleh anti terhadap budaya dan peradaban asing, tapi kita juga harus selektif untuk memilih yang positif, sehingga generasi muda kita tidak menjadi 'lost generation', generasi yang linglung, generasi yang tercerabut dari akar budayanya sendiri. Kita juga tidak ingin kemajuan teknologi dan modernitas peradaban dicapai dengan mengorbankan nilai-nilai luhur, jati diri, dan budaya bangsa," ujar Bamsoet.

(prf/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT