Sejak Senin Sore, Korban Tsunami Baru Makan Sekali
Selasa, 18 Jul 2006 16:28 WIB
Pangandaran - Meski tidak jauh dari kota-kota besar, termasuk Jakarta, korban tsunami di Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat, tetap keleleran tak terurus. Pengungsi yang memadati sejumlah sekolah kelaparan.Pengungsi yang tidak terurus itu misalnya terlihat di pos pengungsian di Pananjung dan Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran. Pengungsi ini adalah warga Desa Purbahayu, 3 km dari Pantai Pangandaran. Pos pengungsian yang mereka gunakan adalah bangunan sekolah dan teras-teras penduduk.Jumlah pengungsi ada 2.000-an orang. "Sejak Senin kemarin, mereka baru makan 1 kali yaitu nasi putih tanpa lauk-pauk," kata Ketua Badan Perwakilan Desa Purbahayu Marsono Anjar, Selasa (18/7/2006).Pengungsi mendapatkan nasi setelah mengumpulkan beras seadanya sehingga total terkumpul 40 kg. Tapi sekarang beras itu sudah ludes. "Kami perlu susu, selimut dan makanan," kata Marsono.Bantuan yang diterima pengungsi saat ini baru bantuan dari Muhammadiyah sebanyak 70 dus mie instan. Selain itu juga telah didirikan posko kesehatan yang berisi 2 dokter dan 4 perawat.Posko pengungsian juga terletak di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Purbahayu, Jalan Sukajadi. Kondisinya juga memprihatinkan. Mereka tidur di teras sekolah. Selain susu untuk bayi, kaum wanita juga butuh bantuan pembalut bagi mereka yang sedang menstruasi.Fasilitas MCK di sekolah itu juga cuma satu, harus diantre oleh 3.000-an pengungsi. Sedang anak-anak terpaksa tidak masuk sekolah. Namun sudah ada kesepakatan dari sekolah-sekolah untuk meliburkan para siswanya.Salah satu pengungsi bernama Minah mengaku lemas dan pusing. Anaknya, Fani (3,5) yang selalu digendongnya tampak rewel. "Dia baru makan hari ini. Dia minta jajan, jadi rewel," kata Minah.Hingga kini, Minah belum berjumpa dengan suaminya yang bekerja sebagai buruh tani. Sedangkan Minah bekerja sebagai pembuat nasi kuning yang dijajakan di hotel-hotel di Pangandaran.Sementara itu, masih banyak warga yang trauma dengan tsunami Senin kemarin. Mereka tidak mau turun dari perbukitan yang tingginya 25 meter dari permukaan air laut. Mereka baru mau turun bila ada pernyataan resmi dari pemerintah bahwa Pangandaran sudah aman dari ancaman tsunami.
(nrl/)











































