Kisah MOS yang Merepotkan

Kisah MOS yang Merepotkan

- detikNews
Senin, 17 Jul 2006 07:46 WIB
Jakarta - Hari pertama masuk sekolah menjadi saat yang ditunggu-tunggu oleh seluruh siswa usai menjalani liburan. Tapi bagi para murid baru, hari pertama sekolah merupakan saat yang merepotkan ketika harus mengikuti kegiatan masa orientasi siswa (MOS)Seperti yang dituturkan Ayu (15), salah satu dari ribuan murid baru SMA di Jakarta yang harus menyiapkan berbagai pernak-pernik sebagai syarat mengikuti MOS. Ayu yang diterima di SMAN 28 yang berlokasi di daerah Pasar Minggu Jakarta Selatan, diwajibkan mengikuti kegiatan MOS selama tiga hari.Kegiatan yang dilaksanakan oleh OSIS itu mendapat restu dari pihak sekolah. Dari tanggal 17-19 Juli para murid baru akan diperkenalkan dengan lingkungan sekolah dan suasana belajar yang baru oleh para seniornya."Tujuannya sih baik tapi kenapa ngerepotin seperti ini?" tanya Ayu ketika dihubungi detikcom, Senin (17/7/2006).Di sekolahnya, setiap murid baru diperintahkan membuat tanda pengenal dengan ukuran 30x40 cm yang terbuat dari karton dan kardus busa. Setiap kelas mendapatkan tema gambar bendera negara-negara dan mata uang negara yang berbeda sebagai latar belakang tanda pengenal.Bersama teman sekelasnya Ayu kebagian Negara Papua Nugini. Di tanda pengenal khusus itu Ayu diminta menempelkan gambar bendera negara Papua Nugini berikut mata uangnya, serta nama dan foto mereka."Kalau buat mengenalkan negara-negara kenapa begini caranya. Lagian ini kan tidak ada hubungannya dengan pengenalan sekolah. Kakak panitia juga tidak menjelaskan tanda pengenal ini maksudnya apa," protesnya.Meski begitu, Ayu yang harus menyisihkan uang jajannya sebesar RP 25 ribu untuk membeli perlengkapan tanda pengenal itu hanya bisa pasrah. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menuruti kemauan panitia MOS.Peraturan lain yang harus dipatuhi Ayu selama MOS di sekolah barunya adalah dia tidak diperkenankan jajan di kantin sekolah. Mereka hanya boleh memakan bekal makanan masing-masing yang dibawa dari rumah.Tak jauh berbeda Berbeda dengan Ayu, Novita (15) yang diterima di SMAN 26 Tebet Jakarta Selatan bahkan diharuskan mengepang rambutnya dengan jumlah sebelas kepang. Selain itu foto yang digunakan pada tanda pengenal pun harus dengan dandanan menor. Sedangkan bagi anak laki-laki diwajibkan mengenakan bandana di kepalanya."Saya kan harus mengeluarkan uang buat bikin foto sesuai permintaan panitia MOS," keluh Novita.Jika dilihat, kegiatan MOS memang bermanfaat bagi para murid baru untuk lebih mengenal lingkungan sekolahnya. Tapi perlu dipikirkan lagi apakah kegiatan ini murni untuk pengenalan atau cuma sekedar meneruskan tradisi konyol seperti yang disebut Kak Seto.Peran sekolah pun dipertanyakan dengan mendukung kegiatan seperti ini. Diperlukan upaya serius dari semua elemen pendidikan untuk tidak mempertahankan kegiatan ini.Meski mungkin di tingkat SMP atau SMA tidak memakan korban tapi kita bisa berkaca pada kejadian MOS atau Ospek di tingkatan universitas yang meminta korban jiwa. Murid baru seharusnya disambut dan diperkenalkan kepada lingkungan sekolah dengan cara yang manusiawi. Bukan membuat mereka menjadi sarana pelampiasan dendam dan tradisi konyol kakak-kakak kelasnya. Suara Anda:Putra-putri Anda juga ikut MOS hari ini? Apakah juga berdandan aneh-aneh seperti berita di atas? Ceritakan pada kami di redaksi@staff.detik.com. (bal/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads