Surya Paloh: Tak Ada Alasan Mundur dari Koalisi Jokowi Kecuali Dimundurkan

ADVERTISEMENT

Surya Paloh: Tak Ada Alasan Mundur dari Koalisi Jokowi Kecuali Dimundurkan

Mulia Budi - detikNews
Sabtu, 22 Okt 2022 17:34 WIB
Momen Jokowi dan 7 Ketum Parpol Jalan Bareng
Jokowi dan tujuh ketum parpol koalisi pendukungnya, Surya Paloh Ketum NasDem ada di sisi kiri Jokowi. (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta -

Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menanggapi isu desakan agar partainya mundur dari koalisi pendukung pemerintahan Jokowi. Paloh menyebut tak ada alasan bagi NasDem untuk mundur.

"Nggak ada alasan bagi NasDem untuk mundur kalau bukan dimundurkan," kata Surya Paloh kepada wartawan di NasDem Tower, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (22/10/2022).

Dia mengatakan pemerintahan Presiden Jokowi dinilai baik oleh NasDem. Dia berharap Jokowi akan memberikan warisan lebih banyak hal baik lagi dalam dua tahun terakhir menjelang berakhirnya masa jabatan Jokowi.

"Pemerintahan ini dianggap baik oleh NasDem, pemerintahnya yang menampak dengan tingkat keberhasilan walaupun masih banyak kekurangan yang perlu juga akan diperbaiki. Harapan kita berakhirnya masa jabatan Presiden Jokowi dua tahun ke depan, beliau meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berarti sebagai legacy, itu yang harus diperjuangkan oleh NasDem," tuturnya.

Selain itu, dia mengatakan reshuffle merupakan hak prerogatif Presiden Jokowi. NasDem akan menghargai setiap keputusan yang dibuat oleh Presiden Jokowi.

"Reshuffle itu hak Pak Jokowi-lah. Kapan pernah kita berubah? Hak prerogatif beliau itu yang kita tahu. Jadi sepanjang apa saja yang dianggap itu baik oleh Pak Jokowi untuk mengatur jalannya roda administrasi pemerintahannya, pasti kita hargai itu," terangnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai NasDem Ahmad Ali buka suara soal adanya pihak yang mendorong dilakukannya reshuffle kabinet. Dia menyebut orang tersebut yang juga meminta NasDem keluar dari koalisi.

Waketum NasDem Ahmad AliWaketum NasDem Ahmad Ali (Foto: Xenos Zulyunico)

Ahmad Ali awalnya berbicara terkait pernyataan Ketua Umum NasDem Surya Paloh soal adanya pihak yang meminta NasDem untuk keluar. Dia menyebut dugaan-dugaan itu muncul ketika NasDem memutuskan mengusung Anies Baswedan menjadi capres pada Pilpres 2024.

"Pernyataan Ketum marak itu tidak lepas dari ketika NasDem mengumumkan Anies sebagai capres. Itu diawali dengan ada bendera Belanda dirobek birunya," kata Ahmad Ali saat dihubungi, Kamis (20/10).

Ahmad Ali lalu menyebut narasi itu kemudian berkembang pada suara-suara bahwa ada partai pemerintah yang mau keluar dari koalisi. Hingga pada akhirnya, kata dia, ada saran secara terang-terangan dari Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.

"Terus kemudian ada partai pemerintah mau keluar dari koalisi, terus kemudian semakin ramai dan mulai terang-terangan katakanlah Mas Hasto kemudian meminta NasDem keluar dari koalisi, ya kan?" ucap Ahmad Ali.

Ahmad Ali menyebut Hasto Kristiyanto mendorong adanya reshuffle kabinet bukan atas nama PDIP. Dia mengatakan Surya Paloh juga tidak menunjuk sosok partai, melainkan orang tertentu yang secara terang-terangan menyuarakan reshuffle kabinet.

"Kalau kemudian disampaikan Ketum kami bukan partai, tapi orang, itu tidak bisa untuk dikatakan itu, karena dikatakan secara terang-terangan," ujarnya.

Simak Video: Paloh Jika Anies Tak Maju Capres Gegara Tak Berkoalisi: Tak Ada Beban

[Gambas:Video 20detik]



(dnu/dnu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT