Waketum NasDem Tuding Hasto PDIP yang Minta Partainya Keluar dari Koalisi

ADVERTISEMENT

Waketum NasDem Tuding Hasto PDIP yang Minta Partainya Keluar dari Koalisi

Matius Alfons Hutajulu - detikNews
Jumat, 21 Okt 2022 07:25 WIB
Wakil Ketua Umum Partai NasDem, Ahmad Ali.
Foto: Ahmad Ali (dok: www.nasdem.id)
Jakarta -

Wakil Ketua Umum Partai NasDem Ahmad Ali buka suara soal adanya pihak yang mendorong dilakukannya reshuffle kabinet. Dia menyebut orang tersebut yang juga meminta NasDem untuk keluar dari koalisi.

Ahmad Ali awalnya bicara terkait pernyataan Ketua Umum NasDem Surya Paloh soal adanya pihak yang meminta NasDem untuk keluar. Dia menyebut dugaan-dugaan itu muncul ketika NasDem memutuskan untuk mengusung Anies Baswedan menjadi capres di Pilpres 2024.

"Pernyataan Ketum marak itu tidak lepas dari ketika NasDem mengumumkan Anies sebagai capres. Itu diawali dengan ada bendera Belanda dirobek birunya," kata Ahmad Ali saat dihubungi, Kamis (20/10/2022).

Ahmad Ali lalu menyebut narasi itu kemudian berkembang kepada suara-suara bahwa ada partai pemerintah yang mau keluar dari koalisi. Hingga pada akhirnya, kata dia, ada saran secara terang-terangan dari Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.

"Terus kemudian ada partai pemerintah mau keluar dari koalisi, terus kemudian semakin ramai dan mulai terang-terangan katakan lah Mas hasto kemudian meminta NasDem untuk keluar dari koalisi, ya kan?" ucap Ahmad Ali.

Ahmad Ali menyebut Hasto Kristiyanto mendorong adanya reshuffle kabinet bukan atas nama PDIP. Dia mengatakan Surya Paloh juga tidak menunjuk sosok partai, melainkan orang tertentu yang secara terang-terangan menyuarakan reshuffle kabinet.

"Kalau kemudian disampaikan Ketum kami bukan partai, tapi orang, itu tidak bisa untuk dikatakan itu, karena dikatakan secara terang-terangan," ujarnya.

Lebih lanjut, anggota Komisi III DPR ini menyebut keputusan reshuffle kabinet berada di tangan Jokowi. Dia menegaskan Jokowi tidak bisa didorong-dorong atas konteks politik apapun.

"Jadi apapun keputusan presiden tentang koalisi tidak bisa diterjemahkan dalam konteks politik, keputusan presiden tentang reshuffle dan lain-lain selalu saya lihat itu kebutuhan organisasi. Jadi ketika ada reshuffle, bukan Pak Jokowi tak suka partai ini lalu reshuffle, tapi lebih kepada efektivitas pemerintahan yang diperhitungkan," tutur dia.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

Lihat Video: Ganjar Siap Nyapres, NasDem: Selamat Datang untuk Ikut "Bertempur"

[Gambas:Video 20detik]






ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT