Obati Kanker Neuroblastoma Anak, Ibu di Sumsel Terbantu Program JKN

ADVERTISEMENT

Obati Kanker Neuroblastoma Anak, Ibu di Sumsel Terbantu Program JKN

Sukma Nur Fitriana - detikNews
Kamis, 20 Okt 2022 16:45 WIB
Obati Kanker Neuroblastoma Anak, Ibu di Sumsel Terbantu JKN
Foto: Dok. BPJS Kesehatan
Jakarta -

Kemudahan berobat menggunakan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) semakin dirasakan masyarakat. Tidak terkecuali bagi seorang ibu dengan tiga anak perempuan Detti Arisa Apriyani (36), di Prabumulih, Sumatera Selatan.

Setiap hari sibuk mengurus bisnis kulinernya, Detti mau tidak mau harus memberikan perhatian khusus untuk anak keduanya yang menderita neuroblastoma. Penyakit tersebut merupakan jenis kanker langka yang berkembang dari sel-sel saraf yang belum matang (neuroblast).

Jenis kanker ini juga sering ditemukan di kelenjar kecil di atas ginjal (kelenjar adrenal) dan dapat berkembang di perut, dada, leher, panggul, dan tulang. Jenis kanker langka ini paling sering menyerang anak-anak.

Detti bercerita pada awalnya sang anak merasakan sakit di sekitar pipi kirinya. Rasa sakit tersebut sampai membuat pipi kiri anaknya mengalami pembengkakan. Tidak berangsur membaik, pembengkakan tersebut menjalar ke bagian mata kiri dan menjadi membiru.

Saat itu, Detti memutuskan membawa anaknya ke klinik terdekat untuk memeriksakan kondisi kesehatan anaknya. Sebagai seorang ibu, ia merasa jika bengkak yang ada di pipi kiri anaknya bukanlah bengkak yang biasa.

Setelah berobat ke klinik terdekat, anak kedua Detti tak kunjung sembuh. Karena sebelumnya sang anak sering mengeluhkan sakit gigi, akhirnya Detti memutuskan membawa anaknya ke Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut Provinsi Sumatera Selatan. Saat itulah sang anak didiagnosa terkena neuroblastoma.

"Ketika saya mendengar diagnosa dari dokter, hati saya rasanya hancur, anak sekecil ini harus menderita kanker, harus dioperasi dan setelah operasi harus menjalani kemoterapi selain itu juga akan memerlukan biaya yang besar untuk pengobatan dan perawatannya," ujar Detti dalam keterangan tertulis, Jumat (20/10/2022).

Namun pada saat itu, dokter menyarankan dirinya menggunakan program JKN untuk berobat sang anak. Mengingat biaya yang dibutuhkan tidaklah sedikit dan ia beserta keluarga adalah peserta JKN aktif, Detti memutuskan untuk beralih menggunakan JKN.

"Awalnya kami berobat belum menggunakan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), kami memilih berobat pribadi terlebih dahulu, karena selama ini saya mendengar kalau berobat menggunakan BPJS Kesehatan ribet," katanya.

Setelah memutuskan untuk menggunakan JKN, anak kedua Detti berhasil melakukan operasi pengangkatan sel kanker pada Juli tahun 2021. Karena itu, sangat bersyukur dan merasa terbantu dengan program JKN.

"Alhamdulillah dengan adanya Program JKN ini, operasi anak saya berjalan dengan lancar dan setelah ini anak saya harus rutin menjalani kemoterapi dan saya menggunakan Program JKN juga," imbuhnya.

Detti menuturkan pelayanan yang diberikan BPJS Kesehatan dan tenaga kesehatan sudah sangat baik.Karena program ini membantu banyak masyarakat, ia mengatakan sebagai peserta JKN memiliki kewajiban untuk membayar iuran secara rutin dan tepat waktu. Selain itu, peserta juga harus mengikuti prosedur pelayanan kesehatannya dengan benar.

"Kalau antre itu sudah biasa, karena yang kita ketahui Program JKN ini ada jutaan orang yang mengakses layanannya. Asal sesuai prosedur semua akan berjalan dengan baik, tidak ada kendala. Apalagi untuk anak saya yang pejuang kanker, sudah sangat bersahabat sekali dengan Program JKN ini, yang penting anak saya dapat berobat dan kemoterapi, tidak masalah bagi saya mengikuti prosedur yang berlaku," tutur Detti.

Saat ini anak kedua Detti masih dalam proses penyembuhan dan sudah melakukan 12 kali kemoterapi. Dengan tekad kuat sang anak untuk sembuh serta dukungan keluarga, Detti harap anaknya bisa pulih kembali dan bisa menjalani kembali aktivitas sehari-hari dengan ceria.

"Jika tidak ada Program JKN, entah dari mana uang untuk biaya pengobatan buah hati saya, mungkin rumah saya juga sudah terjual. Sekali kemoterapi saja memerlukan biaya jutaan rupiah. Bagi saya BPJS Kesehatan sudah sangat baik, tenaga kesehatan dan pemerintah juga sudah sangat berjasa," pungkasnya.

(akd/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT