Budi Kena Ranjau Paku Hingga Tangan Patah

Budi Kena Ranjau Paku Hingga Tangan Patah

- detikNews
Jumat, 14 Jul 2006 11:30 WIB
Jakarta - Ranjau paku adalah trauma tersendiri yang tak pernah dilupakan Budi Sutria. Wajar saja, sebab gara-gara kena ranjau paku Budi terjengkang dari motornya dan mengalami luka serius."Kejadiannya tak akan saya lupakan seumur hidup yang membuat tangan saya patah," kata Budi dalam e-mailnya pada detikcom, Jumat (14/7/2006). Budi mengabadikan pengalaman pahit itu dalam blognya. Kejadian itu terjadi akhir Desember 2005 saat dia melewati jalan memotong ke Jalan Hang Lekir dari Simprug Kebayoran Lama. Budi saat itu melaju dari arah Permata Hijau.Nah, pas tikungan itulah Budi kena ranjau paku. Ban motornya pecah. Dia tak bisa mengimbangi gerakan motornya sehingga dia jatuh dengan tangan menahan badan secara tidak sadar. Setelah sadar dia telah jatuh, Budi tidak bisa berpikir apa-apa, cuma bingung saja kok bisa jalan sebagus ini bisa bikin ban motornya pecah. Budi lalu berdiri dan baru sadar bahwa tangan kirinya tidak bisa digerakkan. Dia lalu menelepon keluarganya minta bantuan.Tak lama kemudian ada orang yang menghampiri Budi. Budi lalu dibantu ke bengkel ban yang tidak terlalu jauh dari tempatnya jatuh. Setelah bannya ditambal dengan ongkos Rp 8 ribu, Budi meminta tukang tambal ban dan konconya keluar dari kawasan itu karena keluarganya yang hendak menjemput Budi tidak menemukan posisi pemuda itu."Tapi tanggapan si tukang tambal ban ini sangat gue benci. Alasan dia nggak ada yang jaga tokonya, padahal ada temannya," cerita Budi.Setelah kasus itu, Budi bertekat tidak lewat kawasan yang membuatnya celaka itu. Dia lewat Simprug yang langganan macet. Ternyata, kawasan ini pun tidak aman. Ban motornya sempat pecah di situ dan mesti ganti ban karena ban dalamnya robek. "Pas gue ganti ban dalam ini, gue nggak sendirian di bengkel itu. Ada kurang lebih 7 motor," tutup Budi.Selain Budi, redaksi juga masih banyak menerima e-mail pembaca tentang ranjau paku. Ardiansyah menceritakan, di kawasan pasar Ciledug, beberapa meter sebelum Mapolsek, biasanya ditaburi ranjau paku yang bahannya bekas payung yang telah dipotong-potong lalu ditajamkan. "Ini akan membuat ban tubles akan kempes tidak terlalu jauh dari target si tukang tambal ban," katanya. Dia juga mengingatkan agar pengendara mengunci semua pintu mobil saat memeriksa ban bocor mengingat penebar paku bukan hanya tukang tambal ban.Sedang Adi Oktavianto Kurniawan mengingatkan agar penunggang kendaraan yang terpaksa mendatangi tukang tambal ban untuk memantau kerja sang tukang. Tujuannya agar tukang tambal tidak nakal sehingga menyobek ban dalam yang cuma bocor yang berakibat dipaksa ganti ban.Urutan yang biasa dilakukan adalah: 1. Mengempeskan ban dengan membuka pentil. 2. Melepas baut penyangga pentil. 3. Membuka ban luar. 4. Mengeluarkan ban dalam. 5. Memberikan angin lagi ke ban dalam. 6. Melakukan cek ke air. 7. Menandai lubang bocor. "Jika tukang tambal bannya melakukan hal yang mencurigakan, jangan ragu-ragu Anda kasih pendapat ke dia (bukan protes), atau Anda pura-pura bantu dia untuk melakukan cek ban. Ingat bahwa setiap proses harus Anda perhatikan dari awal sampai akhir, terutama saat melakukan proses penambalan dan pemasangan.""Saya pernah lihat ada tukang tambal ban yang melakukan penambalan tapi tidak diperhatikan sampai ban pelanggannya kepanasan terus dia sengaja kasih angin agar ban dalamnya membengkak dan bilang bannya jelek lalu akan suruh ganti ban. Dan dengan hal itu, anda kena 2 kali pembayaran, tambal ban, dan ban baru," beber Adi.Yayat Ruhiat juga menulis: "Saya mengalami kempes ban sampe tiga kali di Jalan Raya Lenteng Agung, tepatnya depan Stasiun Lenteng Agung. Dan tidak jauh beda sama pengalaman-pengalaman pengendara motor yang lain, tukang tambal ban nyuruh ganti ban dalam baru, katanya sudah sobek. Untung saya membawa ban serep karena sudah 2 kali kena ranjau, jadi saya bisa jaga-jaga dan akhirnya cuma bayar ongkos pasang sama isi angin Rp 4.000. Sampai sekarang hampir tiap malam kalau lewat situ saya lihat ada saja orang yang kempes bannya depan Stasiun Lenteng Agung. Mudah-mudahan yang berwajib bisa segera menangkap oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab ini."Pembaca bernama Broto MY menuliskan tentang kecurangan lain yang dilakukan tukang tambal ban ini, yaitu soal ban pengganti. Menurutnya, kebanyakan mereka menggunakan ban dalam 'IRC' aspal. Kalau dilihat sekilas, warna kertas pembungkus dan model design tulisannnya mirip, warna biru dengan tulisan miring. Kalau diperhatikan, itu bukan ban IRC, akan tetapi ban merek lainnya. Dari segi kualitas, jelas jauh. Dalam harga, ban IRC asli di bengkel rata-rata Rp 16.000, jika dengan pasang biasanya bengkel kasih harga Rp 25.000,-. Begitu juga ban merek Swallow. Sedangkan bengkel yang memasang ban dalam aspal,biasanya cukup dengan biaya Rp. 15.000, karena biaya pembelian ban aspal itu "hanya" Rp. 8.000. Jadi harga yang dipakai tambal ban jalanan itu harga standar ban IRC yang ada di bengkel- bengkel. Pembaca bernama Andi mengisahkan pengalaman ranjau pakunya di daerah Daan Mogot dia bertempat tinggal di Tangerang dan berkantor di Grogol Jakarta Barat. Pertama, di daerah Cengkareng (sebelum lampu merah) bertebaran paku-paku yang cukup banyak dan ukuran yang sama. Kedua, setelah kantor Samsat kurang lebih 100 meter. Ketiga, sebelum jembatan gantung (Pertamina). Paku-paku tersebut biasanya berada di bagian kiri jalan.Selain itu untuk pengemudi mobil perlu juga berhati-hati dengan tukang tambal di daerah Tanjung Duren, tepatnya sebelum BCA Tanjung Duren. "Ketika itu ban saya bocor tetapi ketika diperiksa tidak menggunakan air tetapi ban akan langsung ditusukkan dengan lidi atau kayu dengan berpura-pura ada angin yang keluar. Karena saya melihat maka saya tegur, si tukang tambal langsung marah dan bannya langsung dipasang kembali tanpa ditambal (beruntung tidak jauh dari sana ada bengkel motor)," cerita Andi.Untuk pengemudi mobil (hati-hati), karena tukang tambal ini akan menusuk ban dengan obeng atau alat yang biasa dipakai untuk tambel tubles di saat sopir sedang memarkirkan mobil untuk tambah angin (dengan berpura-pura memarkirkan tentunya). Si tukang tambal menusukkan dua atau tiga lubang pada ban si korban. Jadi sebaiknya apabila ingin mengecek angin di tukang tambal ban pinggir jalan sebaiknya ada yang memperhatikan. (nrl/)


Berita Terkait