Perjuangan Kiswanti: Dobrak Stigma, Perempuan Tak Butuh Sekolah

ADVERTISEMENT

Perjuangan Kiswanti: Dobrak Stigma, Perempuan Tak Butuh Sekolah

Nada Celesta - detikNews
Minggu, 16 Okt 2022 12:11 WIB
Jakarta -

Kiswanti (55) adalah penggagas Warung Baca Anak Lebak Wangi (Warabal). Perpustakaan yang terletak di ujung Gang Kamboja, Kecamatan Parung, Bogor itu telah berdiri selama 25 tahun lamanya. Semua dimulai dari keprihatinan Kiswanti akan kurangnya akses pendidikan dan minat baca anak-anak Parung saat ia menginjakkan kakinya di sana tahun 1993.

Ia tidak hanya menyediakan tempat dan fasilitas baca lainnya, Di sana, Kiswanti mendobrak stigma yang menganggap perempuan tidak perlu bersekolah.

"Waktu saya baru datang ke sini sekitar tahun 1993an banyak anak yang tidak sekolah. Jadi kadang nggak sampai lulus SD mereka sudah berhenti, terutama anak perempuan nggak boleh sekolah. Satu karena biaya, terus kedua karena untuk apa sekolah toh nanti akan di rumah dan mereka bisa bekerja nyulam-nyulam payet," kenang Kiswanti untuk program Sosok detikcom (16/10/22).

Hal ini mengingatkan Kiswanti pada masa kecilnya. Kiswanti lahir dan besar di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada masa itu, perempuan seringkali dianggap hanya punya peran di dalam rumah.

"Masa kecil saya di Jogja, perempuan itu cuma masak, mencuci, ya pokoknya di sumur. Kalau lagi rapat itu nggak boleh ikut bicara, perempuan itu untuk apa. Padahal ada rahim di perempuan itu. Justru perempuan itu adalah perpustakaan pertama untuk anak-anaknya, saat melahirkan yang mengasuh ibunya. Kalau perempuan nggak boleh ikut unjuk suara itu nanti perempuan akan terintimidasi," kata Kiswanti.

Ketika akhirnya memutuskan untuk membuat perpustakaan Warabal di tahun 1997, Kiswanti tak hanya berfokus pada meminjamkan buku kepada anak-anak. Lebih dari itu, Kiswanti ingin membantu anak-anak di sekitarnya untuk melanjutkan pendidikan, baik laki-laki maupun perempuan.

Namun, usaha yang harus dilakukan Kiswanti tidaklah mudah. Pertama-tama, ia harus membuka pikiran para orang tua dari anak-anak di sekitarnya, bahwa pendidikan itu penting.

"Kita harus mulai membuka pola pikirnya dulu nih. Kami berupaya untuk komunikasi ke orang tua agar anak-anaknya itu juga sekolah. Apalagi di sini sekolah SMP ada dan dekat. Sekolahnya dekat, tidak perlu ongkos, kalau jam istirahat lapar bisa pulang, masih bisa ditempuh dengan jalan kaki. Kan kalau tidak sekolah nanti akan menyesal. Akhirnya itu sudah mulai pada sekolah dan bahkan setelah adanya paket B, paket C itu sudah mulai banyak yang akhirnya kejar. Ada beberapa yang kejar paket karena mau kuliah," terang Kiswanti.

Usaha Kiswanti tak sia-sia. Ia melihat bagaimana warga setempat banyak berpartisipasi dalam pengembangan Warabal dan mempercayakan anak-anaknya untuk membaca dan mengikuti kelas-kelas di Warabal.

"Konon kata warga sih ya bukan dari saya, kok anak-anak yang tersentuh oleh Warabal itu anaknya jadi lumayan sopan, belajar tanggung jawab, terus mau melanjutkan belajar lagi, dan karena anak-anak itu semangat," kata Kiswanti.

Misi Warabal di masa depan, halaman selanjutnya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT