Kisah Kiswanti, Mbok Jamu Pendiri Warung Baca di Parung Bogor

ADVERTISEMENT

Kisah Kiswanti, Mbok Jamu Pendiri Warung Baca di Parung Bogor

Nada Celesta - detikNews
Minggu, 16 Okt 2022 06:39 WIB
Jakarta -

Pada salah satu sudut gang di Jalan Kamboja, Parung, Bogor selalu terdengar keriuhan di pagi hari. Nada-nada gembira itu keluar dari suara anak-anak yang bersenandung. Biasanya, tidak lama setelahnya, keramaian berganti dengan suara anak bersahut-sahutan menimpali dongeng yang tengah dibacakan gurunya.

Hiruk-pikuk itu berasal dari kegiatan di Taman Pendidikan Usia Dini (PAUD) Nurul Qalbu. Terletak di Desa Sajah, Kecamatan Parung, Bogor, ada cerita unik yang melatarbelakangi berdirinya institusi berdikari ini. Dimulai dari sebuah perpustakaan kecil gagasan penjual jamu keliling, kini PAUD Nurul Qalbu berkembang menjadi wadah bagi anak-anak untuk menjarah ilmu dengan penuh antusias.

Penjual jamu itu Bernama Kiswanti. Semasa kecil, ia adalah gadis yang haus akan ilmu pengetahuan. Ia senang mendapati dirinya hanyut dalam lembaran-lembaran buku, karena hanya dengan buku, ia bisa keluar dari kehidupannya yang sederhana.

Berasal dari keluarga kurang mampu yang tinggal di Bantul, Yogyakarta, orang tua Kiswanti tak bisa menyekolahkannya seperti anak-anak lain. Namun, keinginan Kiswanti menuntut ilmu begitu besar, sehingga dia mencari cara untuk ikut belajar. Ia mengintip ke ruang kelas teman-temannya saat mereka bersekolah.

Suatu waktu, aksi Kiswanti ketahuan oleh guru yang sedang mengajar. Untungnya, guru itu tidak menghukum, melainkan memberi kesempatan Kiswanti untuk ikut bersekolah secara cuma-cuma. Syaratnya, ia harus membantu di perpustakaan sekolah.

"Nah di situ, wah ini surganya saya. Karena selama ini saya ingin pinjam buku nggak bisa Kak, karena menjadi anggota perpustakaan itu harus membayar 2.500 rupiah. Nah orang tua kami nggak bisa bayar saat itu," kenang Kiswanti dalam program Sosok detikcom (16/10/22).

Kiswanti menemukan sepenggal surganya di sekolah. Meski demikian, di sana ia sering dirundung. Kemiskinannya menjadi bahan perundungan. Oleh teman-temannya, Kiswanti pernah ditusuk dengan jeruji sepeda, rambutnya diikat ke kursi, hingga dilekatkan getah nangka.

"Semoga saya nggak nangis ya, Kak. Waktu itu rambut saya panjang, Kak. Rambut saya diikat sama kursi belakang, begitu saya bangun, terpelanting. Kadang rambut saya diberi getah nangka. Saya pernah ditusuk dengan jeruji sampai pendarahan dan dirawat di rumah sakit," terang Kiswanti.

"Itulah yang saya terima karena kemiskinan," lanjutnya nanar.

Kiswanti bertahan, hingga akhirnya ia berhasil mengantongi ijazah SD. Namun, kemiskinan menariknya kembali pada realita. Biaya yang tinggi menjadi kendala bagi Kiswanti untuk mengejar cita-citanya.

Ia terpaksa harus menerima keadaan. Pada tahun 1987, Kiswanti memilih bekerja di Jakarta sebagai asisten rumah tangga selama beberapa bulan. Namun, kecintaannya pada buku dan ilmu pengetahuan tak kunjung sirna. Hal ini dibuktikan dengan koleksi bukunya yang tetap bertambah.

Beli jamu dapat buku, halaman selanjutnya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT