Perjuangan TNI di Perbatasan, Tanpa Listrik-Panjat Pohon buat Telepon

ADVERTISEMENT

Tapal Batas

Perjuangan TNI di Perbatasan, Tanpa Listrik-Panjat Pohon buat Telepon

Yudistira Imandiar - detikNews
Minggu, 16 Okt 2022 12:05 WIB
Perjuangan TNI di Perbatasan, Tanpa Listrik-Panjat Pohon buat Telepon
Foto: Agung Pambudhy/detikcom
Kepulauan Tanimbar -

Sejak bulan Juli 2022, 12 orang prajurit Yonif 734/Satria Nusa Samudra Pattimura bertugas di Pos Jaga Satuan Tugas Pengamanan Pulau Terluar (Satgas Pamputer) di Kecamatan Selaru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Sejumlah keterbatasan dihadapi para prajurit dalam tugasnya menjaga salah satu daerah terluar Indonesia tersebut.

Komandan Pos Jaga Satgas Pamputer Yonif 734/Satria Nusa Samudra Pattimura Sertu Algi Alamsyah mengungkapkan TNI hadir di Selaru untuk menjaga kondusifitas wilayah setempat, terutama di dua desa terluar, yakni Desa Fursuy dan Selaru.

"Sebelum ada pos jaga terjadi bentrok 2 kampung Desa Fursuy dan Elyasa menyangkut batas tanah. Setelah itu masuk Satgas (Pamter) di sini untuk menjalin merangkul masyarakat dari kedua desa, supaya menjalin hubungan silaturahmi yang baik. Alhamdulillah sampai sekarang tidak terjadi lagi (bentrok)," tutur Algi dalam perbincangan dengan detikcom.

Dalam melakoni tugasnya, Algi mengungkapkan ada beberapa kesulitan yang dihadapi. Salah satunya, yakni tidak adanya listrik. Pos Jaga Satgas Pamputer di Selaru hanya punya satu perangkat panel surya yang kini sudah mulai rusak. Panel surya itu hanya mampu menghidupkan beberapa buah lampu, sedangkan untuk mengisi daya ponsel pun sudah tidak bisa.

"Untuk kendala kami selama penugasan di sini pertama kami masalah kelistrikan. Di sini listrik di pos kami hanya ada solar cell saat ini tidak maksimal karena sebagian komponen rusak," ungkap Algi saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.

Lantaran tak ada listrik, praktis air bersih juga tak tersedia di pos jaga. Para prajurit mesti pergi ke Desa Fursuy atau Elyasa buat mengambil air bersih dari rumah warga.

"Sumber air dari pos sangat jauh karena harus ke Desa Elyasa atau Fursuy berjarak 2 kilo (kilometer) lebih," tutur Algi.

"Air bersih yang kamiu lakukan kita ke kampung sebelah biasa pake jerigen kita titipkan ke mobil yang biasa lewat," lanjutnya.

Perjuangan TNI di Perbatasan, Tanpa Listrik-Panjat Pohon buat TeleponPerjuangan TNI di Perbatasan, Tanpa Listrik-Panjat Pohon buat Telepon Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Sinyal telekomunikasi juga sulit ditangkap di area pos jaga tersebut. Alhasil, para prajurit kesulitan untuk berkomunikasi dengan pusat komando maupun dengan keluarga.

Kesulitan sinyal telekomunikasi ini pun disiasati para prajurit dengan membuat rumah pohon. Di ketinggian sekitar 3 meter itulah sinyal baru bisa ditangkap telepon seluler. Saat butuh menelepon, mereka mesti memanjat pohon yang terletak di sebelah pos jaga.

"Untuk komunikasi selama ini yang kami lakukan apabila komunikasi ke satuan atasan, kami buat rumah pohon supaya kami bisa dapat jaringan telekomunikasi. Tapi hanya (sinyal) telepon (seluler) biasa, tidak bisa internet," papar Algi.

Algi berharap ada bantuan dari pemerintah untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut.

"Harapan kami untuk daerah terluar di sini mungkin dari pusat bisa lebih memperhatikan masyarakat, terutama di daerah pulau terluar ini karena masih perlu bantuan dari pemerintah," ujar Algi

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan ekonomi, infrastruktur, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan Indonesia. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!

Simak juga 'Dedikasi Tinggi Penjaga Lampu Suar Di Ujung Batas Indonesia':

[Gambas:Video 20detik]



(akd/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT