Kasus Senjata Koes, 70 Orang Diperiksa, Termasuk Mayjen
Rabu, 12 Jul 2006 23:40 WIB
Jakarta -
Puspom TNI masih terus menyelidiki penemuan ratusan senjata api di rumah Waaslog KSAD (alm) Brigjen Koesmayadi. Hingga kini sudah lebih 70 tentara yang diperiksa, termasuk perwira tinggi berpangkat mayor jenderal (Mayjen) dan brigadir jenderal (Brigjen). Informasi ini disampaikan Panglima TNI Marsekal Djoko Soeyanto saat bersilaturahmi dengan pimpinan media massa di Wisma Ahmad Yani, Jl. Taman Surapati, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (12/7/2006) malam. Hadir juga dalam acara ini Irjen Mabes TNI Laksdya Sumarjono, Kasum TNI Letjen Endang Suwarya, KSAU Marsekal Herman Prayitno, Wakil KSAD Letjen Harry Cahyana, Wakil KSAL Laksdya Argawa, dan Dan Puspom TNI Mayjen Hendarjie. "Hingga kini sudah 70-an lebih orang yang kami mintai keterangan. Mereka dimintai keterangan karena dianggap mengetahui kasus ini, termasuk apakah mereka pernah bersama-sama dengan almarhum (Koesmayadi)," ujar Panglima. Panglima membenarkan bahwa di antara para tentara yang diperiksa itu terdapat perwira tinggi. "Memang ada yang bintang 1 dan bintang 2. Tapi, saya tidak mau menyebut nama, karena tidak etis. Kalau saya sebut nama, maka nantinya akan mempengeruhi kredibilitas mereka. Ini kan masih dalam tahap penyelidikan," ujar dia. Panglima menegaskan Puspom TNI akan melakukan penyelidikan seobjektif mungkin. Ditargetkan selama 1 bulan penyelidikan akan selesai. "Makanya Puspom masih sangat sibuk untuk melakukan penyelidikan ini. Kita tunggulah sebulan ini," pinta Panglima. Hasil penyelidikan, kata Panglima, nantinya akan disampaikan kepada publik secara transparan. "Dan saya yakin nantinya hasil penyelidikan ini akan menuai perdebatan, pro dan kontra. Tapi, yang jelas kami akan melakukan transparansi," ujar dia. Bagi Panglima, dalam kasus ini, TNI tidak hanya melakukan penyelidikan saja dan mengungkap apa terjadi sebenarnya. "Yang lebih penting, ini pelajaran bagi kami. Ke depan, dengan kejadian ini, kami akan menata TNI dalam tatanan dan pedoman yang benar," tutur Panglima.
(asy/)










































