Kisah Sedih Peserta Olimpiade Matematika Internasional
Rabu, 12 Jul 2006 15:28 WIB
Jakarta - Kesedihan tampak di wajah Albert Gunawan, salah satu dari 6 anak peserta Olimpiade Matematika yang gagal berangkat ke Slovenia akibat masalah visa. Padahal bersama rekan-rekannya Albert sudah mempersiapkan diri selama 8 bulan."Kita harus mengikuti pembinaan sampai tiga kali. Lamanya 8 bulan," ujar Albert saat ditemui detikcom, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (12/7/2006).Dituturkan lulusan SMA I Temanggung itu, untuk terpilih mewakili Indonesia dalam ajang bergengsi itu, dia harus melalui seleksi ketat dari tingkat sekolah hingga tingkat nasional.Di sekolahnya, Albert berhasil menyisihkan sejumlah rekan-rekannya. Di tingkat kabupaten dia harus mengikuti ujian yang hasilnya baru diketahui sebulan kemudian. Setelah dinyatakan lolos, Albert harus kembali bersaing dengan puluhan anak lainnya di tingkat provinsi. Setelah mengikuti tes selama dua hari, Albert menjadi wakil Provinsi Jawa Tengah di tingkat nasional. Total 31 wakil provinsi yang bersaing di tingkat nasional. Pembinaan tahap pertama dilakukan pada bulan November 2005 di Pusat Pelatihan Guru (PPG) IPA di Bandung. Selama tiga minggu Albert dan rekan-rekannya mendapat bimbingan khusus dari guru-guru pilihan untuk melatih berbagai variasi soal Matematika. 17 anak tersaring ke tahap berikutnya.Selanjutnya, 17 anak yang lolos mengikuti pembinaan tahap kedua dilaksanakan pada bulan Maret 2006 selama tiga minggu. Terpilihlah 6 anak yang mewakili nama Indonesia di pentas Olimpiade Matematika Internasional yang berlangsung di Slovenia pada 12-18 Juli. Sebelum berangkat ke Slovenia, keenam anak itu mengikuti tahap akhir yakni pemantapan selama dua minggu di Jakarta. "Pembinaan yang terakhir ini untuk pemantapan. Setiap hari kita belajar sampai malam dan fokus pada pelajaran," cerita Albert.Tapi sayang, seleksi panjang dan persiapan berbulan-bulan yang dilakukan harus gagal karena kelalaian Depdiknas mengurus visa.Albert mengaku mengetahui adanya persoalan visa ini pada Jumat 7 Juli lalu. Informasi batalnya keberangkatan mereka, diperoleh dari guru pembimbing dan pegawai Dikdasmen Depdiknas. "Padahal tangal 9 Juli kita seharusnya sudah berangkat mengikuti perlombaan," sesal Albert.
(bal/)











































