P20, BKSAP DPR Dorong Kontribusi Negara Berkembang Mitigasi Isu Iklim

ADVERTISEMENT

P20, BKSAP DPR Dorong Kontribusi Negara Berkembang Mitigasi Isu Iklim

Nahda Utami - detikNews
Jumat, 07 Okt 2022 17:42 WIB
Pimpinan BKSAP DPR RI Putu Supadma Rudana di P20 (dok. F-PD).
Pimpinan BKSAP DPR RI Putu Supadma Rudana di P20 (dok. F-PD).
Jakarta -

Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Putu Supadma Rudana menyatakan Indonesia memegang teguh komitmen mencapai emisi nol bersih pada 2060. Putu menyebut komitmen itu untuk mengatasi terjadinya perubahan iklim.

Hal itu disampaikan Putu Supadma dalam 2nd Session Parliamentary Forum in The Context of The G20 Parliamentary Speaker's Summit (P20) di gedung DPR, kompleks senayan pada Kamis, 6 Oktober 2022.

"Komitmen untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060 atau lebih cepat, sebagaimana ditegaskan dalam KTT Perubahan Iklim COP-26 yang diadakan di Glasgow tahun lalu, melalui pembangunan rendah karbon (PRK) sebagai tulang punggung strategi pemulihan yang akan membawa Indonesia menuju ekonomi hijau," kata Putu dalam keterangan, Jumat (7/10/2022).

Putu mengatakan Indonesia telah menunjukkan komitmennya dalam mendukung dan meratifikasi berbagai perjanjian internasional. Hal itu untuk mengatasi perubahan iklim hingga dampak buruknya.

"Karena komitmen internasionalnya, Indonesia juga telah mengadopsi tujuan yang ambisius namun dapat dicapai," jelas Putu.

Putu menilai langkah ini sejalan dengan tujuan pembangunan Indonesia khususnya selama fase pemulihan pandemi COVID-19. Langkah-langkah itu, lanjut Putu, juga dapat menyeimbangkan tiga pilar ekonomi, sosial, dan juga lingkungan.

"Dan sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan yang menyeimbangkan tiga pilar ekonomi, sosial, dan lingkungan, yang sangat penting selama fase pemulihan pandemi COVID-19," ujarnya.

Putu mengatakan masyarakat harus didorong untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam kegiatan terkait aksi iklim. Dia melihat ada banyak keuntungan jika partisipasi aksi iklim itu terus dilakukan.

"Salah satu strateginya adalah memastikan partisipasi dan kontribusi manusia dalam aksi iklim, yang tidak hanya akan menguntungkan planet ini, tetapi juga ekonomi," kata Putu.

Meski demikian, Putu mengakui tidak ada negara yang dapat menghadapi krisis iklim dengan sendirinya. Untuk itu, dia melihat rasa tanggung jawab harus diterapkan secara penuh dan efektif.

Lebih lanjut Putu menyebut seluruh negara harus berkontribusi untuk mengatasi perubahan iklim. Kontribusi itu, menurut Putu, dapat dilakukan berdasarkan kapasitas dan kemampuan setiap negara.

"Negara-negara berkembang juga harus berkontribusi pada upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, sesuai dengan agenda global yang disepakati dan berdasarkan kapasitas dan kemampuan nasional mereka," imbuhnya.

(nhd/gbr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT